Blog

Kita adalah orang yang cemas

Kita adalah orang yang cemas

Alasdair Groves di CCEF Conference : Anxiety

1. Pendahuluan: Kecemasan di Zaman Modern

Alasdair Groves mengamati bahwa kecemasan adalah masalah yang selalu ada, bahkan dalam kondisi kehidupan modern di dunia Barat yang relatif aman dan nyaman. Meskipun kita hidup di era kemajuan teknologi dan standar hidup yang tinggi, prevalensi kecemasan sangat mencolok.

Salah satu penyebab meningkatnya kecemasan adalah budaya individualistik, yang menempatkan tekanan luar biasa pada individu untuk mendefinisikan tujuan dan identitas mereka sendiri. Pembicara berpendapat bahwa penekanan pada “menciptakan diri sendiri” dan “menjadi unik” menimbulkan beban yang berat bagi orang-orang modern. Mereka merasa terdorong untuk unggul, menjadi istimewa, dan memiliki dampak yang signifikan, yang kemudian mengarah pada perasaan tekanan yang luar biasa dan, akibatnya, kecemasan.

> Wawasan Alkitabiah:
– Amsal 12:25: “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia..”
– Ayat ini menunjukkan bagaimana kecemasan membebani hati, seperti yang dijelaskan oleh pembicara. Beban penciptaan diri dan harapan masyarakat dapat menekan berat, tetapi penghiburan (perkataan yang baik) dapat meringankan tekanan ini, terutama jika itu didasarkan pada iman.

Inti Kecemasan: Memahami Akar Masalahnya

Alasdair Groves membahas tentang sifat kecemasan. Pada intinya, kecemasan adalah respons terhadap ketakutan—khususnya, ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada sesuatu atau seseorang yang kita pedulikan. Ketakutan ini sering kali diperparah oleh kombinasi ancaman eksternal dan perjuangan internal.

Ancaman Eksternal:
Pembicara merujuk pada Mazmur 27, di mana Daud menulis tentang ketakutannya terhadap musuh-musuhnya tetapi akhirnya menemukan kepercayaan kepada Tuhan. Daud menghadapi pasukan nyata dan ancaman kematian, tetapi imannya membuatnya percaya bahwa Tuhan akan melindunginya.

> Mazmur 27:1-3:
“Tuhan adalah terangku dan keselamatanku; kepada siapakah aku harus takut?
Tuhan adalah benteng hidupku; kepada siapakah aku harus gentar?
Ketika penjahat-penjahat datang menyerang aku untuk memakan dagingku,
lawanku dan musuh-musuhku, merekalah yang tersandung dan jatuh.
Sekalipun tentara berkemah melawan aku, hatiku tidak akan takut;
sekalipun perang bangkit melawan aku, dalam hal ini aku tetap percaya.”

Kepercayaan Daud mencerminkan keyakinan mendalam pada perlindungan Tuhan, yang mengingatkan kita bahwa ancaman eksternal (seperti musuh atau ujian hidup) dapat dihadapi dengan iman. Ini adalah pesan sentral dari seminar: kecemasan itu nyata dan berakar pada kekhawatiran yang sah, tetapi iman memberi cara untuk melawan ketakutan ini.

Perjuangan Internal:
Selain bahaya eksternal, seminar ini menekankan bagaimana faktor internal—seperti rasa bersalah, malu, dan kelemahan pribadi—dapat memperburuk kecemasan. Pembicara mengakui bahwa daging kita sendiri dapat menjadi “musuh” yang menggoda kita untuk mengambil alih kendali atas keadaan dan menyimpang dari jalan Tuhan. Ketika kecemasan menyerang, orang sering merasa tergoda untuk menyimpang dari “jalan yang lurus” kebenaran, mencoba menangani segala sesuatunya sendiri.

> Mazmur 27:11:
“Ajarkanlah aku jalan-Mu, ya Tuhan, dan tuntunlah aku di jalan yang rata karena musuh-musuhku.”
– Di sini, Daud berdoa agar tetap berada di jalan yang benar meskipun ada godaan untuk mengambil alih dalam saat-saat ketakutan. Kecemasan dapat membuat kita membuat keputusan yang buruk, tetapi dengan mempercayai bimbingan Tuhan, kita tetap berada di jalan yang lurus dan benar.

3. Kebaikan dalam Kecemasan: Perspektif yang Mengejutkan

Salah satu poin yang lebih bertentangan dengan intuisi, tetapi sangat menarik dalam seminar ini adalah gagasan bahwa kecemasan memiliki **aspek positif jika didekati dengan benar. Alasdair Groves berargumen bahwa merasa cemas tentang sesuatu dapat menjadi cerminan dari kepedulian yang mendalam tentang hal tersebut. Misalnya, Rasul Paulus menyatakan kecemasannya terhadap gereja-gereja yang didirikannya, bukan karena kurangnya iman, tetapi karena dia peduli terhadap kesejahteraan orang-orang.

> 2 Korintus 11:28 ( BIMK ):
“Di samping semuanya itu, setiap hari saya cemas juga akan keadaan semua jemaat.”
– Kecemasan Paulus bukanlah dosa; itu mencerminkan cinta dan kepeduliannya terhadap kesejahteraan rohani orang lain. Bentuk kecemasan ini benar karena muncul dari kasih dan tanggung jawab.

Kecemasan yang Benar dan Salah:
Alasdair Groves membedakan antara *kecemasan yang benar—yang muncul dari cinta dan kepedulian yang tepat—dan *kecemasan yang berdosa, yang muncul dari ketidakpercayaan kepada Tuhan. Kecemasan yang benar mendorong kita untuk bertindak atas dasar cinta dan kepedulian, sementara kecemasan yang berdosa menjauhkan kita dari Tuhan, membuat kita meragukan kehadiran dan kebaikan-Nya.

Poin penting yang muncul dari sini adalah: Kecemasan dapat mendekatkan kita kepada Tuhan. Ketika kita cemas tentang sesuatu, itu mengungkapkan apa yang kita cintai dan hargai. Jika kita membawa kekhawatiran itu kepada Tuhan dalam doa, hubungan kita dengan Dia akan semakin dalam.

4. Perjuangan Kecemasan: Menghadapi Masalah dengan Teguh

Meskipun ada kebaikan dalam kecemasan, pembicara mengakui bahwa kebanyakan orang mengalami kecemasan dalam bentuk yang negatif. Masalahnya muncul ketika kecemasan membuat kita meragukan bahwa Tuhan akan hadir atau baik dalam menghadapi peristiwa yang ditakuti.

Pembicara memberikan alat diagnostik praktis:
– Waspadalah terhadap pikiran “Bagaimana jika…”.
– “Bagaimana jika saya kehilangan pekerjaan?”
– “Bagaimana jika sesuatu terjadi pada orang yang saya cintai?”
– Pikiran-pikiran ini sering kali menjadi titik awal spiral ke bawah, di mana Tuhan dikeluarkan dari gambar. Pembicara mendorong audiens untuk membalik “bagaimana jika”: “Bagaimana jika Tuhan muncul dalam situasi ini?” “Bagaimana jika Tuhan ada bersama saya ketika hal buruk terjadi?”

> Matius 6:34:
“Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
– Yesus memanggil kita untuk percaya bahwa Tuhan akan mengurus masa depan. Kecemasan tentang masa depan sering kali melibatkan membayangkan skenario tanpa penyediaan Tuhan, tetapi iman dalam pemeliharaan Tuhan menghilangkan kebutuhan untuk khawatir.

5. Penghiburan Alkitabiah: Jangan Takut

Sepanjang seminar, pembicara berulang kali kembali ke perintah “Jangan takut” yang sering muncul dalam Kitab Suci. Alih-alih melihat ini sebagai teguran yang keras, pembicara mengubahnya menjadi undangan untuk percaya. Perintah Tuhan untuk tidak takut adalah jaminan bahwa Dia ada bersama kita, bahkan dalam situasi yang paling menakutkan.

> Yesaya 41:10:
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau;
janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;
Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau;
Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang benar.”

Ayat ini menangkap esensi dari pesan seminar: dalam saat-saat kecemasan, penawarnya bukanlah sekadar mencoba menghilangkan perasaan tersebut, tetapi berbalik kepada Tuhan dan percaya pada kekuatan serta kehadiran-Nya.

—-
Diringkas dari seminar CCEF dengan judul “We are anxious people”

Refleksi dari Saya ( Jeffrey Lim ):
Di dalam Alkitab ada 365x ayat yang menguatkan kita supaya jangan takut. Ini berarti kita harus terus jangan kuatir, takut dan cemas sepanjang tahun. Karena Tuhan Allah tidak pernah meninggalkan kita,= menyertai kita bahkan bersama kita. Saya tutup dengan Doa Perisai dari St. Patrick dimana ada bagian yang memaparkan penyertaan Tuhan Yesus dan juga respon iman terhadap perlindungan Allah :

KRISTUS bersamaku,
KRISTUS di hadapanku,
KRISTUS di belakangku,
KRISTUS di dalamku,
KRISTUS di bawahku,
KRISTUS di atasku,
KRISTUS di kananku,
KRISTUS di kiriku,
KRISTUS di saatku berbaring, KRISTUS di saatku duduk,
KRISTUS di dalam benteng,
KRISTUS di dalam kereta berkuda,
KRISTUS di dalam ruang kemudi kapten kapal,
KRISTUS di dalam hati setiap orang yang memikirkanku,
KRISTUS di dalam setiap mulut manusia yang membicarakanku,
KRISTUS di dalam mata yang melihatku,
KRISTUS di dalam telinga yang mendengarkanku,

Aku mengikatkan diriku hari ini pada
kekuatan maha perkasa,
seruan kepada ALLAH TRITUNGGAL,
melalui iman pada KE-TIGA-NYA,
melalui pengakuan akan KE-SATU-ANNYA
akan Pencipta ciptaan.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword