Blog

Keindahan di setiap fase : pemikiran yang melampaui pemikiran dikotomis

Keindahan di setiap fase : pemikiran yang melampaui pemikiran dikotomis

Refleksi buat penderita Bipolar yang bergumul di dalam setiap fase-nya
– Jeffrey Lim –

Di dalam Bipolar ada fase depresi dan ada fase hipomania dan mania. Ada kalanya juga fase yang stabil. Dulu saya suka merenungkan bahwa kalau fase hipomania itu fase yang lebih baik. Karena jadi lebih pintar, jadi lebih produktif, jadi lebih happy, jadi lebih energik, jadi lebih kreatif, jadi lebih keluar ide-ide. Sepertinya di fase ini lebih sehat. Tetapi padahal fase ini juga dapat menjadi fase yang lebih bahaya. Bisa lebih boros, mudah marah dan bertindak impulsif lainnya.

Dari perenungan-perenungan rohani dan juga dari seminar-seminar wawasan Kristen yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan bahwa seringkali kita sebagai orang percaya terjebak ke dalam pemikiran dikotomis dimana kita menganggap satu sisi lebih baik daripada sisi yang lain. Saya ambil contoh sederhana pemikiran yang membagi seperti kaya-miskin, sehat-sakit, produktif-tidak produktif, kerja-istirahat, ketawa-meratap, pintar-bodo, dll. Dan dalam pemikiran dikotomis ini tentu kita menganggap sisi yang kaya, sehat, produktif, kerja ketawa, pintar ini lebih baik daripada sisi yang miskin, sakit, tidak produktif, meratap, bodo, dll. Sepertinya satu hal yang alamiah untuk berpikir seperti ini bukan ?

Tetapi bagaimana menyinkronkan dengan hal-hal seperti di dalam salib itu ada kemuliaan. Ketika Tuhan Yesus mengalami penghukuman karena dosa manusia. Ketika penderitaan terbesar terjadi ada berkat berkat terbesar. Bagaimana bisa memandang bahwa Ketika ada duri dalam daging itu baik supaya bergantung kepada anugerah Tuhan ?  Bagaimana kita bisa mengerti hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Bagaimana kita bisa mengerti bahwa kita tahu bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya ( Roma 8:28 ). Segala sesuatu ini bukan hanya yang sisi kiri / kanan dari pemikiran dikotomis. Tetapi segala sesuatunya mendatangkan kebaikan karena Allah turut bekerja di dalamnya.

Saya kemudian juga diingatkan mengenai Pengkhotbah 3. Saya coba kutip ayatnya semua.

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. 3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; 3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; 3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; 3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; 3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; 3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; 3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. 3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? 3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. 3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. 3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. 3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. 3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Secara umum manusia merenungkan bahwa lahir itu baik dan mati itu tidak baik. Menangis itu tidak baik dan tertawa itu baik. Memeluk itu baik tetapi menahan diri memeluk itu tidak baik. Ini juga pemikiran dikotomis. Tetapi siapa yang mampu menentukan waktu-waktu seperti ini. Memangnya kita bisa mengatur semua ? Semua waktu-waktu ini seringkali kita ga bisa tentukan. Dan semua ada di dalam kendali kedaulatan Tuhan supaya kita takut akan Dia.

Waktu-waktu kehidupan kita mari kita syukuri. Sebab segala sesuatu indah pada waktunya itu bukan cuma pada waktu yang kita pandang baik menurut ukuran dan nilai kita secara umum.  Namun segala sesuatu ada indah pada fase-nya. Pada momennya. Menemukan keindahan dan berkat di balik setiap fase itu perlu kita gumuli.

Kiranya renungan singkat ini boleh menjadi berkat bagi kemuliaan Tuhan

Renungan ini dibuat ketika seorang teman sharing di pagi hari ini dia mengeluh karena fase bawah depresi dan saya coba menguatkan dengan perenungan ini. Fase bawah teman saya dipakai menghasilkan perenungan ini.

Jeffrey Lim
7-Oktober-2024

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword