Blog

Guilt and Shame Before Jesus

Guilt and Shame Before Jesus

Ed Welch in CCEF Conference : Guilt and Shame

1. Mendefinisikan Guilt (Rasa Bersalah) dan Shame (Rasa Malu)
Ed Welch memulai dengan membedakan antara guilt dan shame, dua konsep yang sering disalahpahami tetapi memiliki perbedaan yang jelas dalam Alkitab.

– Guilt (Rasa bersalah) dijelaskan sebagai masalah *hukum, yang sering diilustrasikan melalui gambaran ruang sidang. Guilt adalah ketika seseorang bertanggung jawab secara hukum karena melanggar hukum Tuhan. Welch menjelaskan bahwa rasa bersalah berhubungan dengan **keadilan* dan kebutuhan akan pengampunan. Ia merujuk pada Roma 3:23, yang menyatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” untuk menekankan bahwa semua orang bersalah di hadapan Tuhan. Namun, Welch menegaskan bahwa rasa bersalah ini dapat diatasi melalui janji pengampunan Tuhan, seperti yang terlihat dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

– Shame (Rasa malu), lanjut Welch, memiliki cakupan yang lebih luas. Tidak seperti rasa bersalah yang bersifat hukum, rasa malu melibatkan paparan publik ( terekspose ) dan perasaan menyakitkan bahwa seseorang secara mendasar cacat atau tidak layak. Ini bukan hanya tentang kesalahan hukum di hadapan Tuhan—melainkan tentang perasaan telanjang, terasing, dan terhina di hadapan orang lain. Welch mengutip Kejadian 3:7 untuk mengilustrasikan hal ini, di mana Adam dan Hawa, setelah melanggar perintah Tuhan, menyadari bahwa mereka telanjang dan “menjahit daun ara untuk membuat cawat bagi diri mereka.” Tindakan ini melambangkan insting manusia untuk menutupi rasa malu mereka.

2. Shame sebagai Kondisi Manusia:
Welch menekankan bahwa rasa malu adalah pengalaman manusia yang universal yang muncul dari kejatuhan di Taman Eden. Ia merujuk pada Kejadian 2:25, di mana Adam dan Hawa awalnya “telanjang tetapi tidak merasa malu,” untuk menegaskan bahwa rasa malu bukan bagian dari rancangan awal Tuhan untuk manusia. Namun, setelah mereka berdosa, rasa malu menjadi konsekuensi pertama yang mendalam dari pemberontakan manusia. Dalam Kejadian 3:10, Adam berkata, “AIa menjawab: ”Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”.” Menurut Welch, ini memperkenalkan rasa malu sebagai dilema manusia yang mendasar.

Rasa malu, menurut Welch, berfungsi sebagai wadah untuk rasa bersalah — rasa bersalah menjadi bagian dari pengalaman manusia yang lebih luas tentang rasa malu. Rasa bersalah adalah konsekuensi hukum dari dosa, tetapi rasa malu mempengaruhi seluruh diri seseorang, membuat mereka merasa tidak layak, terbuka, dan terbuang. Ia menjelaskan bahwa banyak orang dapat mengalami pengampunan atas rasa bersalah mereka, tetapi masih membawa beban emosional dari rasa malu.

3. Guilt dan Shame dalam Perjanjian Lama:
Welch menggunakan beberapa kisah dari Perjanjian Lama untuk menjelaskan bagaimana rasa malu terjalin dalam pengalaman manusia dan bagaimana Tuhan meresponnya:

– Adam dan Hawa (Kejadian 3:21): Welch menyoroti tindakan Tuhan yang menutupi Adam dan Hawa dengan pakaian dari kulit setelah mereka berdosa. Ia menjelaskan bahwa ini adalah contoh pertama bagaimana Tuhan menangani rasa malu manusia, melambangkan bagaimana Tuhan menutupi dosa kita serta rasa malu yang menyertainya.

– Pakaian Imam (Keluaran 28:2): Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat pakaian khusus bagi Harun, “untuk kemuliaan dan keindahan.” Welch menjelaskan bahwa tindakan ini sangat simbolis dari keinginan Tuhan untuk mengembalikan martabat dan kehormatan kepada umat-Nya, membalikkan efek dari rasa malu.

– Naomi (Rut 1-4): Welch merujuk pada kisah Naomi, yang kembali ke Betlehem dalam keadaan malu setelah kehilangan suami dan anak-anaknya. Bahkan, ia meminta untuk dipanggil Mara, yang berarti “pahit,” untuk mencerminkan kesedihannya. Namun, di akhir kitab, Naomi dihormati melalui menantunya, Rut, yang melahirkan seorang anak yang termasuk dalam garis keturunan Raja Daud dan pada akhirnya, Yesus. Ini, menurut Welch, adalah contoh kuat bagaimana Tuhan mengubah rasa malu menjadi kehormatan.

– Penyucian Yesaya (Yesaya 6:5-7): Dalam bagian ini, Yesaya, merasa sangat tidak layak di hadapan Tuhan, berseru, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir.” Tetapi seorang serafim menyentuh bibir Yesaya dengan bara dari mezbah, menyucikannya dari dosa. Welch menjelaskan bahwa tindakan penyucian ini tidak hanya menghapus rasa bersalah Yesaya tetapi juga rasa malunya. Ini mengantisipasi bagaimana pengorbanan Kristus kemudian akan menyucikan dan memulihkan orang yang merasa malu.

4. Jenis-Jenis Shame (Rasa Malu):
Welch memperluas pembahasan tentang berbagai jenis rasa malu yang dialami orang:

– Shame dari Dosa: Beberapa individu dikenal karena dosa mereka, seperti seorang wanita yang disebut Welch yang berjuang melawan pedofilia. Rasa malunya bukan hanya karena dosanya tetapi juga karena dia secara publik dikenal oleh dosanya, yang mengisolasinya dari orang lain.

– Shame dari Penghinaan oleh Orang Lain: Welch menjelaskan bahwa rasa malu juga bisa muncul akibat dosa orang lain terhadap kita, seperti pelecehan seksual. Ia menggunakan Tamar dalam 2 Samuel 13, yang dipermalukan oleh dosa saudaranya Amnon, untuk menggambarkan betapa dalam rasa malu dapat mempengaruhi mereka yang dilecehkan.

– Shame dari Kegagalan: Welch menyoroti rasa malu yang muncul dari kegagalan pribadi, terutama dalam peran publik. Ia berbagi kisah dari pelayanan di mana para pendeta sering merasa seperti penipu atau gagal setelah memberikan khotbah. Jenis rasa malu ini muncul dari perasaan bahwa seseorang tidak memenuhi harapan, bahkan ketika orang lain mungkin tidak menyadarinya.

5. Pengejaran Tuhan terhadap Orang yang Malu:
Salah satu tema utama dalam seminar Welch adalah bahwa Tuhan secara aktif mengejar mereka yang merasa malu, menawarkan pemulihan dan inklusi. Welch merujuk pada Hosea 2:23, di mana Tuhan berjanji untuk memulihkan Israel, mengatakan, “Aku akan berkata kepada yang bukan umat-Ku: Engkau adalah umat-Ku, dan mereka akan berkata: Engkaulah Allahku.” Di sini, Tuhan mengambil mereka yang ditolak dan membawa mereka kembali menjadi umat-Nya.

Dalam Yesaya 54:4-5, Welch menyoroti janji lain: “Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi.” Welch menggunakan ini untuk menunjukkan bagaimana Tuhan berbicara langsung pada pengalaman rasa malu, menawarkan harapan dan inklusi. Referensi kepada Tuhan sebagai “suami” menekankan hubungan yang intim dan perjanjian, menggantikan perasaan malu dengan kehormatan dan rasa memiliki.

6. Yesus dan Penyelesaian terhadap Shame (Rasa Malu):
Welch beralih ke Perjanjian Baru untuk menjelaskan bagaimana Yesus sepenuhnya menyelesaikan masalah rasa malu:

– Ibrani 12:2: Welch menarik perhatian pada Yesus, yang “demi sukacita yang disediakan bagi Dia, telah memikul salib dengan mengabaikan kehinaan, dan sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Welch menjelaskan bahwa Yesus menanggung rasa malu yang paling berat di kayu salib dan mengatasinya. Kemenangan-Nya atas rasa malu kini tersedia bagi semua yang percaya kepada-Nya.

– Markus 2:16-17: Welch juga menyoroti pelayanan Yesus kepada mereka yang terpinggirkan (marginal), seperti pemungut cukai dan orang-orang berdosa, menunjukkan bagaimana Dia sengaja bergaul dengan mereka yang dipermalukan oleh masyarakat. Dalam Markus 1:40-45, ketika Yesus menyentuh seorang penderita kusta dan menyembuhkannya, Dia tidak hanya menyembuhkan penyakit orang itu tetapi juga memulihkan martabatnya dengan menghilangkan rasa malunya.

7. Penerapan untuk Hari Ini:
Welch mendorong kita untuk mengidentifikasi pengalaman rasa bersalah dan malu mereka sendiri, mengenali bahwa solusi Tuhan bersifat komprehensif. Guilt diampuni, tetapi rasa malu juga ditangani melalui penutupan, inkluisi, dan penyucian.

Welch menyarankan untuk menggunakan istilah-istilah yang intim dalam doa, seperti memanggil Tuhan “suamiku” atau “Allahku,” untuk memperkuat rasa memiliki dan melawan perasaan ditolak dan terbuang. Asosiasi pribadi dengan Tuhan ini dimaksudkan untuk menjadi penawar langsung terhadap rasa malu

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword