Blog

Out of Control : Understanding Anxiety Disorders

Out of Control : Understanding Anxiety Disorders

Bob Kellemen dalam CCEF Conference : Psychiatric Disorder

Anatomi Kecemasan: Dari Penciptaan hingga Distorsi

Kellemen memulai dengan menelusuri asal-usul kecemasan. Dia menyarankan bahwa apa yang kita alami sebagai kecemasan adalah distorsi dari kewaspadaan yang diberikan oleh Tuhan. Kewaspadaan ini adalah bagian dari desain asli manusia, seperti yang terlihat dalam Kejadian 2:15, di mana Adam ditugaskan untuk menjaga dan memelihara Taman Eden:
> “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Dalam keadaan sebelum kejatuhan, kewaspadaan adalah bentuk kesiapsiagaan yang konstruktif dan protektif. Namun, setelah Kejatuhan, kewaspadaan ini menjadi “terjebak,” menghasilkan respons perlindungan diri seperti ketakutan, stres, dan kecemasan. Kellemen menjelaskan bahwa kecemasan dapat dipahami sebagai kewaspadaan yang kehilangan iman kepada Tuhan, yang mengalihkan fokus ke dalam diri daripada kepada perlindungan Tuhan.

2. Kemenangan dalam Kecemasan, Bukan Mengatasi Kecemasan

Kellemen mengubah fokus dari mencapai “kemenangan atas” kecemasan menjadi menemukan “kemenangan dalam” kecemasan, mengutip kata-kata Philip Yancey:
> “Tidak ada penyelesaian yang bisa begitu sederhana bagi seseorang yang benar-benar pernah melalui perjalanan tersebut.”

Untuk menggambarkan hal ini, dia dengan jujur membagikan perjuangannya sendiri dengan kecemasan, menggambarkan pertempuran hariannya sebagai cara untuk bergantung pada Kristus. Dia menganjurkan penyerahan yang berkelanjutan kepada kasih pemeliharaan Tuhan, menyarankan bahwa kedewasaan Kristen yang sejati sering kali melibatkan tantangan yang terus berlangsung sambil tetap memegang iman, sebagaimana yang Paulus gambarkan dalam 2 Korintus 12:9:
> “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

3. Model Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, Konsumasi (CFRC)

Kellemen memperkenalkan kerangka “CFRC” untuk menawarkan pemahaman Alkitabiah tentang kecemasan:

– Penciptaan: Tuhan menciptakan kewaspadaan sebagai respons yang konstruktif, memungkinkan manusia merespons bahaya potensial demi menjaga dan mengelola ciptaan.

– Kejatuhan: Kewaspadaan awal ini mengalami distorsi oleh Kejatuhan, mengakibatkan kewaspadaan yang “terjebak” dalam cara-cara yang berpusat pada diri sendiri dan berubah menjadi ketakutan dan kecemasan. Distorsi ini terlihat dalam Kejadian 3, ketika Adam dan Hawa bersembunyi dari Tuhan, takut akan ketelanjangan dan hukuman (Kejadian 3:10):
> “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

– Penebusan: Melalui karya Kristus di kayu salib, orang percaya diberdayakan untuk mengembalikan kewaspadaan dengan menyerahkan kendali kepada Tuhan. Mereka menggantikan perlindungan diri dengan ketergantungan yang berpusat pada Kristus. Ibrani 13:5-6 mengingatkan kita:
> “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

– Konsumasi: Kebebasan penuh dari kecemasan dijanjikan dalam kekekalan, di mana Tuhan berjanji untuk melakukan pemulihan total. Wahyu 21:4 menggambarkan masa depan di mana:
> “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Kellemen mengakui bahwa sementara kemenangan penuh atas kecemasan dijanjikan dalam kehidupan yang akan datang, orang percaya dipanggil untuk mencari “kemenangan dalam” kecemasan saat ini, mendekatkan diri kepada Tuhan melalui perjuangan tersebut.

4. Model Relasional Alkitabiah untuk Mengatasi Kecemasan

Kellemen menyajikan pendekatan berlapis-lapis untuk merawat mereka yang berjuang dengan kecemasan, menekankan bahwa perawatan ini adalah proses yang melibatkan hubungan, pemahaman diri, dan komunitas. Model ini, yang didasarkan pada Filipi 4, mencakup aspek-aspek perawatan yang berbeda:

– Perawatan Spiritual Relasional: Menjaga hubungan dengan Tuhan sebagai “penjaga” atau “pengawal” hati kita (Filipi 4:7). Kellemen mendorong orang percaya untuk fokus pada kedamaian dan kehadiran Tuhan, dengan mengutip Filipi 4:6-7:
> “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

– Perawatan Sosial Relasional: Menekankan pentingnya komunitas dan hubungan yang dewasa dalam tubuh Kristus. Kellemen menekankan pentingnya komunitas Kristen, di mana orang percaya saling menanggung beban (Galatia 6:2) dan saling menguatkan:
> “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu” (1 Tesalonika 5:11).

– Kesadaran Diri Relasional: Mengembangkan citra diri yang sehat berdasarkan identitas dalam Kristus. Kellemen merujuk pada Filipi 1:6:
> “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

– Perawatan Rasional (Mental): Menggantikan kebohongan dengan kebenaran melalui pembaruan pikiran. Dia menganjurkan untuk fokus pada kebenaran untuk melawan distorsi yang disebabkan oleh kecemasan (Filipi 4:8):
> “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

– Perawatan Kehendak (Perilaku): Bertindak dengan berani, meskipun ada kecemasan, dengan menyelaraskan tindakan dengan perintah Tuhan. Paulus mendorong orang percaya untuk mempraktikkan apa yang mereka ketahui (Filipi 4:9):
> “Apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”

– Perawatan Emosional: Menyerahkan emosi kepada Tuhan, mengakui bahwa emosi itu sendiri bukanlah dosa tetapi dapat diarahkan kepada Tuhan. Kellemen mengutip Mazmur 139:13-14, menegaskan bahwa Tuhan dengan sengaja membentuk batin kita:
> “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”

– Perawatan Fisik dan Situasional: Mengakui bahwa kita adalah makhluk jasmani, ia mendorong penyesuaian gaya hidup (seperti pola makan, olahraga, tidur) dan, jika perlu, intervensi medis. Kellemen menghubungkan ini dengan harapan akan transformasi, sebagaimana Paulus ungkapkan dalam Filipi 3:21:
> “[Kristus] akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.”

5. Menempatkan Filipi 4:6 dalam Konteks Pesan Paulus

Kellemen mengkritik penggunaan Filipi 4:6 sebagai “solusi cepat” dan menempatkannya dalam pesan Filipi yang lebih luas. Paulus, yang menulis dari dalam penjara dan menghadapi ketidakpastian, menunjukkan iman di bawah tekanan. Dorongannya untuk “jangan kuatir” berakar pada keyakinannya bahwa damai sejahtera Tuhan akan “memelihara” orang percaya. Paulus mencontohkan keteguhan, mendorong pembaca untuk “berdiri teguh” meskipun dalam keadaan sulit (Filipi 1:27-28), menunjukkan bahwa pengelolaan kecemasan adalah bagian dari hidup dalam iman di tengah-tengah ujian.

6. Strategi Praktis untuk Konselor dan Orang Percaya*

Kellemen memberikan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan:
– Mendengar dengan Penuh Empati: Mendengarkan sepenuhnya cerita seseorang dan memahami pengalaman mereka tanpa langsung melompat ke ayat-ayat Alkitab.
– Menggunakan Alkitab sebagai Cahaya, Bukan Alat Paksa: Mengintegrasikan ayat Alkitab dengan lembut dan bekerja sama alih-alih menerapkannya secara paksa.
– Mendorong Tindakan Berani: Membantu peserta konseling mengambil langkah kecil dalam iman, mengingatkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, tetapi pilihan untuk bertindak meskipun ada ketakutan.
– Menerapkan Dukungan Komunitas: Membangun sistem dukungan dalam gereja di mana orang lain dapat saling memberikan dorongan dan akuntabilitas.

7. Dorongan untuk Terus Berpegang pada Kristus

Akhirnya, Kellemen menekankan bahwa pertempuran yang berkelanjutan dengan kecemasan dapat berfungsi sebagai pengingat untuk bergantung pada Kristus setiap hari. Dia mengutip 2 Timotius 1:7 untuk menegaskan keberanian yang ditemukan dalam kehidupan yang berpusat pada Kristus:
> “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Ketergantungan dan penyerahan diri yang terus-menerus ini membentuk model untuk mempercayai Tuhan bukan hanya untuk menjaga kita dalam situasi kecemasan, tetapi juga sebagai “penjaga” kita di setiap aspek kehidupan. Melalui perjuangan ini, orang percaya ditarik ke dalam ketergantungan yang lebih dalam pada kekuatan, harapan, dan damai sejahtera dari Kristus.

Refleksi dari Jeffrey Lim :  Sebagai orang percaya apalagi sebagai GKM kita tidak steril dari rasa cemas tetapi bersyukurnya itu Ketika kita punya Tuhan yang beserta kita yaitu Tuhan Yesus sehingga kita bisa menghadapi rasa cemas kita bersamaNya. Bersama Tuhan kita bisa melalui apapun termasuk lembah kekelaman.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword