Guilt and Shame with Jesus
David Powlison dalam CCEF Conference Guilt and Shame
1. Pengalaman Manusia: Banjir Rasa Bersalah dan Malu
Powlison menekankan bahwa emosi manusia tidak mudah dikategorikan ke dalam kotak-kotak yang rapi. Sebaliknya, mereka lebih seperti banjir—kacau, meluap, dan tidak terpisahkan. Rasa bersalah, malu, penyesalan, ketakutan, kecemasan, kegagalan, dan patah hati mengalir bersama dalam kehidupan orang-orang yang mencari Yesus. Gambaran ini sangat kuat karena mencerminkan bagaimana Yesus bertemu orang-orang dalam keadaan mentah dan kacau mereka.
Dasar Alkitabiah:
Dalam Mazmur 69:1-3, Daud berseru kepada Tuhan dari tempat penderitaan yang luar biasa:
> “(69-2) Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku! 69:2 (69-3) Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. 69:3 (69-4) Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku. ”
Mazmur ini adalah contoh nyata bagaimana tokoh-tokoh Alkitab mengalami banjir emosional, spiritual, dan bahkan fisik, sama seperti orang-orang dalam Injil yang datang kepada Yesus di saat-saat keputusasaan mereka.
2. Tiga Ciri Umum Orang yang Mencari Yesus:
Powlison mengamati bahwa orang-orang yang datang kepada Yesus dalam Injil memiliki tiga ciri umum:
– Kesadaran mendalam akan kebutuhan mereka: Ini mencakup rasa bersalah, malu, dan berbagai bentuk keterpurukan lainnya.
– Mengenali bahwa Yesus dapat membantu: Meskipun mereka memiliki pemahaman terbatas tentang siapa Yesus, mereka memiliki perasaan intuitif bahwa Dia dapat memenuhi kebutuhan mereka.
– Pertukaran yang sederhana dan relasional: Pertemuan mereka dengan Yesus melibatkan seruan untuk bantuan, menerima kasih karunia-Nya, dan merespons dengan rasa syukur.
Dasar Alkitabiah:
Tema ini bergema di seluruh Injil, di mana Yesus sering menyatakan bahwa Dia datang untuk mereka yang menyadari kebutuhan mereka. Dalam Lukas 5:31-32, Yesus berkata:
> “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.”
Ini menyoroti bahwa misi Yesus adalah untuk menjawab kebutuhan mendalam mereka yang menyadari keterpurukan mereka.
3. Pengakuan Pra-Teologis terhadap Yesus
Powlison menyoroti bahwa orang-orang yang datang kepada Yesus sering memiliki apa yang disebutnya sebagai “pengakuan pra-teologis.” Orang-orang ini belum sepenuhnya memahami siapa Yesus (Anak Allah, Mesias), juga belum mengerti sepenuhnya makna teologis dari kematian dan kebangkitan-Nya. Namun, mereka memiliki keyakinan intuitif bahwa Yesus dapat menolong mereka. Ini adalah pengakuan yang sederhana dan relasional bahwa Yesus adalah satu-satunya yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Dasar Alkitabiah:
Pertimbangkan pengemis buta, Bartimeus, dalam *Markus 10:47-48*:
> “10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
Bartimeus tahu sedikit tentang identitas penuh Yesus, tetapi dia memiliki cukup pengakuan untuk mengetahui bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Yesus, sebagai tanggapan, menghormati imannya dan menyembuhkannya, dengan mengatakan, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Markus 10:52).
4. Studi Kasus 1: Perempuan Berdosa di Rumah Orang Farisi (Lukas 7:36-50)
Powlison memulai dengan memeriksa kisah perempuan berdosa dalam Lukas 7, yang memasuki rumah orang Farisi dan mengurapi kaki Yesus dengan air mata dan minyak wangi. Wanita ini, yang terkenal karena reputasi dosanya, datang kepada Yesus dengan cara yang berani dan tidak konvensional, yang mengejutkan para tamu makan malam. Simon, sang Farisi, menghakimi wanita itu dan Yesus, berpikir dalam hatinya bahwa jika Yesus benar-benar seorang nabi, Dia tidak akan membiarkan wanita seperti itu menyentuh-Nya.
Powlison menekankan bagaimana Yesus melihat melampaui rasa malu sosial dan melihat kasih dan pertobatan yang mendalam dari wanita itu. Dia menyatakan pengampunan kepadanya, dengan berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih” (Lukas 7:47).
Paralel Alkitabiah:
Kisah ini sejajar dengan ajaran Yesus sebelumnya dalam Lukas 5:20, di mana Dia menyembuhkan seorang lumpuh dengan terlebih dahulu menangani dosanya:
> “Ketika Yesus melihat iman mereka, Ia berkata, ‘Hai saudara, dosamu sudah diampuni.’”
Ini menyoroti bahwa penyembuhan Yesus sering dimulai dengan menangani masalah spiritual inti—rasa bersalah dan pengampunan—sebelum beralih ke penyembuhan fisik atau sosial. Simon, sang Farisi, yang dibutakan oleh kesombongannya, tidak bisa melihat kebutuhannya sendiri akan pengampunan, sementara wanita berdosa, yang sepenuhnya menyadari rasa bersalahnya, menemukan kebebasan dalam belas kasih Kristus.
5. Studi Kasus 2: Wanita yang Mengalami Pendarahan (Lukas 8:43-48)
Kisah kedua yang dibahas Powlison adalah tentang wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun. Kondisinya tidak hanya menyebabkan rasa sakit fisik tetapi juga isolasi sosial dan agama. Sebagai seseorang yang dianggap “najis” menurut hukum Yahudi, dia dikecualikan dari kehidupan masyarakat normal. Tindakannya yang penuh iman—menyentuh jubah Yesus—menghasilkan penyembuhan segera, tetapi Yesus berhenti untuk mengakui secara terbuka wanita tersebut.
Powlison menekankan bahwa tindakan Yesus untuk memanggilnya secara terbuka bukan hanya untuk penyembuhan fisiknya, tetapi untuk memulihkan dia secara sosial, mengangkat rasa malunya, dan mengintegrasikannya kembali ke dalam masyarakat. Dengan memanggilnya “anak perempuan” (Lukas 8:48), Yesus menegaskan martabatnya dan memberikan kedamaian kepadanya.
Paralel Alkitabiah:
Tindakan ini mencerminkan niat penebusan Allah di seluruh Kitab Suci, di mana Dia mencari dan memulihkan orang-orang yang terpinggirkan dan terbuang. Yesaya 61:1 menyatakan:
> “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara.”
Bagian nubuat ini, yang dibacakan Yesus pada awal pelayanan-Nya (Lukas 4:18), menetapkan misi-Nya untuk menyembuhkan dan memulihkan mereka yang rusak secara spiritual, fisik, dan sosial.
6. Paradoks Ilahi: Jalan ke Atas adalah ke Bawah
Salah satu tema paling kuat dari seminar ini adalah paradoks Injil, yang oleh Powlison diungkapkan sebagai “jalan ke atas adalah ke bawah.” Dalam ekonomi Allah, pengakuan akan keterpurukan, kelemahan, dan kebutuhan kita adalah jalan untuk menemukan kekuatan, penyembuhan, dan keselamatan. Ini berlawanan dengan budaya, di mana dunia sering kali menghargai kemandirian dan kekuatan. Namun, Yesus mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah jalan menuju kasih karunia.
Dasar Alkitabiah:
Dalam Yakobus 4:6, kita membaca:
> “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Demikian juga dalam Matius 5:3, Yesus memulai Ucapan Bahagia dengan berkata:
> “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Ayat-ayat ini mencerminkan paradoks bahwa dengan mengakui kebutuhan kita—kemiskinan rohani kita—kita membuka diri untuk menerima kasih karunia Allah secara penuh.
7. Renungan Penutup: Berkat dalam Mencari Pertolongan
Powlison menutup seminar dengan tantangan untuk refleksi pribadi. Dia mengundang para pendengar untuk mempertimbangkan di mana mereka membutuhkan pertolongan dalam hidup mereka dan untuk merenungkan bagaimana berkat Yesus (dari Bilangan 6:24-26) berbicara kepada kebutuhan tersebut:
> “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”
Pilihan yang jelas: apakah kita hidup dalam “anti-berkat,” yang ditandai oleh keterasingan, kehilangan, dan penolakan? Atau apakah kita berbalik kepada Yesus, mengakui kebutuhan kita, dan menerima berkat-Nya berupa kasih karunia, perlindungan, dan damai sejahtera?
Kesimpulan:
Seminar David Powlison menawarkan meditasi yang mendalam tentang tema rasa bersalah, malu, dan penebusan dalam Injil Lukas. Melalui kisah wanita berdosa dan wanita dengan masalah pendarahan, ia menggambarkan bagaimana Yesus bertemu orang-orang dalam kebutuhan mereka, menawarkan pengampunan, penyembuhan, dan pemulihan. Seminar ini menantang pendengarnya untuk mengenali area-area keterpurukan dalam hidup mereka dan berbalik kepada Yesus untuk mendapatkan pertolongan, dengan percaya bahwa Dia dapat mengubah bahkan banjir rasa bersalah dan malu menjadi nyanyian kasih dan syukur.
Refleksi dari Jeffrey Lim :
Saya sendiri bersyukur kepada Tuhan Yesus bahwa Ketika mengakui keterpurukan, kelemahan dan kebutuhan saya akan kasih karunia membuat saya menemukan kekuatan, penyembuhan dan keselamatan. Di dalam hati saya yang terdalam sebagai seorang GKM saya paham saya orang yang bergumul dengan rasa bersalah dan rasa malu. Mungkin beberapa orang melihat pergumulan orang dengan GKM cuma aspek bio fisik. Tetapi dalam pengalaman saya sendiri saya merasakan ada pergumulan rohani. Pengalaman saya bukan universal tetapi bagi orang yang GKM adalah bijak untuk tetap refleksi apakah kita bergumul juga dengan rasa bersalah dan rasa malu. Rasa bersalah lebih ke saya melakukan perbuatan yang salah(doing) dan rasa malu lebih ke perasaan saya salah (being). Siapa di dalam dunia ini yang tidak lepas dari kesalahan? Tetapi saya bersyukur justru ada kasih karunia Tuhan melalui Injil bahwa Tuhan Yesus datang untuk memulihkan kita sepenuhnya baik dari rasa bersalah maupun rasa malu. Marilah datang kepada Tuhan Yesus dan dipulihkan !
![]()