Blog

Eternal Rest Today

Eternal Rest Today

Eternal Rest Today : Practicing Sabbath as a Foretaste of Our Future
Mike Emlet

Dasar Alkitabiah Sabat (Perjanjian Lama):

1. Penciptaan:
– Kejadian 2:1-3: Sabat berakar pada narasi penciptaan, di mana setelah enam hari menciptakan dunia, Allah beristirahat pada hari ketujuh (Kejadian 2:1-3). Istirahat ini bukan karena kelelahan, melainkan merupakan jeda ilahi untuk merayakan penyelesaian dan kesempurnaan karya-Nya. Istirahat Allah menetapkan model bagi manusia untuk diikuti, ritme antara bekerja dan beristirahat yang penting bagi kehidupan yang seimbang. Kata Ibrani untuk “istirahat” menjadi akar dari kata “Sabat” (Shabbat), menandakan bahwa istirahat ilahi ini dimaksudkan sebagai bagian permanen dari kehidupan manusia.
– Mike Emlet membandingkan istirahat Allah dengan seorang seniman yang mundur untuk mengagumi karya agungnya. Istirahat Sabat adalah undangan bagi umat manusia untuk berhenti sejenak dan menikmati ciptaan Allah, mengenali keindahan dan ketertiban di dalamnya.

2. Penebusan:
– Keluaran 20:8-11: Perintah Sabat sangat terkait dengan kisah penciptaan, seperti yang terlihat dalam Sepuluh Perintah (Keluaran 20:8-11). Di sini, Sabat menjadi pengingat istirahat Allah, dan manusia diperintahkan untuk meniru pola ini dengan berhenti bekerja satu hari dalam seminggu untuk menghormati Sang Pencipta.
– Ulangan 5:12-15: Sabat juga dikaitkan dengan pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir (Ulangan 5:12-15). Bangsa Israel diperintahkan untuk memelihara Sabat tidak hanya sebagai peringatan atas penciptaan, tetapi juga untuk merayakan kebebasan mereka dari penindasan. Ini memperkenalkan dimensi kedua dari Sabat: penebusan. Sabat bukan hanya waktu untuk beristirahat dari pekerjaan, tetapi juga hari untuk merenungkan tindakan pembebasan Allah dan memperbarui hubungan orang percaya dengan-Nya.

Mike Emlet menekankan bahwa Sabat berbicara tentang kebebasan dari kerja dan kebebasan untuk beristirahat dalam Tuhan. Sabat bukan hanya tentang berhenti bekerja demi pekerjaan itu sendiri, tetapi untuk menyediakan ruang agar kita bisa terlibat lebih dalam dalam hubungan dengan Tuhan. Waktu istirahat yang suci ini memberikan kesempatan untuk mengalami kasih dan anugerah Allah yang tiada henti, memungkinkan orang percaya untuk hidup dalam identitas mereka sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus.

Pemenuhan Sabat (Perjanjian Baru):
Dalam Perjanjian Baru, Yesus memperluas dan memenuhi makna Sabat, menekankan signifikansi spiritual yang lebih dalam:

– Markus 2:23-28: Ketika orang Farisi mengkritik murid-murid Yesus karena memetik bulir gandum pada hari Sabat (Markus 2:23-28), Yesus menata ulang diskusi tersebut. Dia mengajarkan bahwa Sabat diciptakan untuk kesejahteraan manusia, bukan sebagai aturan yang menindas. Dia menyatakan, “Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat,” yang menandakan bahwa istirahat adalah karunia ilahi, bukan beban. Yesus kemudian menegaskan otoritas-Nya atas Sabat dengan menyatakan diri-Nya sebagai “Tuhan atas Sabat,” menyoroti peran-Nya sebagai pemberi dan penafsir perintah Sabat.
– Markus 3:1-5: Yesus menyembuhkan seorang pria yang tangannya lumpuh pada hari Sabat (Markus 3:1-5), lebih lanjut menantang pemahaman legalistik orang Farisi. Di sini, Dia menunjukkan bahwa Sabat tidak hanya tentang berhenti bekerja, tetapi juga tentang melakukan kebaikan. Yesus menegaskan bahwa tindakan belas kasih dan penyembuhan sepenuhnya sejalan dengan tujuan Sabat—memulihkan keutuhan dan kebebasan, sebagaimana Allah membebaskan orang Israel dari perbudakan.

Melalui dua contoh ini, Mike Emlet menjelaskan bahwa pelayanan Yesus memenuhi aspek penciptaan dan penebusan dari Sabat. Dalam Kristus, Sabat tidak hanya menjadi hari untuk istirahat fisik tetapi juga hari untuk pembaruan rohani. Yesus membawa istirahat Sabat yang paling utama dengan membebaskan orang percaya dari belenggu dosa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, Sabat adalah hari untuk mengalami kebaikan anugerah, belas kasih, dan penebusan Allah.

Panduan Praktis untuk Memelihara Sabat Saat Ini:
Mike Emlet menawarkan nasihat praktis tentang bagaimana orang Kristen dapat memelihara Sabat dalam kehidupan mereka saat ini dengan menyoroti tiga praktik inti:

1. Istirahat dari Pekerjaan Sehari-hari:
– Sabat adalah waktu untuk berhenti dari aktivitas kerja biasa dan melepaskan dorongan konstan untuk produktivitas. Praktik ini memungkinkan orang Kristen untuk melepaskan tekanan performa dan menyerahkan pekerjaan mereka kepada Tuhan. Ini adalah pengingat bahwa Allah yang memegang kendali dan bahwa pekerjaan manusia, meskipun penting, bukanlah sumber makna atau keamanan yang utama.
– Emlet menyarankan agar kita mempersiapkan diri sebelumnya untuk sepenuhnya merangkul istirahat Sabat. Alih-alih terburu-buru menyelesaikan tugas-tugas pada Sabtu malam atau melihat Sabat hanya sebagai jeda dari rutinitas yang sibuk, orang Kristen harus mendekatinya dengan kesengajaan. Ini termasuk merencanakan tugas-tugas, pekerjaan rumah, dan tanggung jawab sebelumnya sehingga Sabat benar-benar dapat menjadi hari untuk beristirahat.
– Istirahat selama Sabat juga harus melibatkan aktivitas yang menyegarkan dan membawa sukacita serta kedamaian, seperti menghabiskan waktu di alam, terlibat dalam hobi kreatif, atau menikmati waktu bersama keluarga. Sabat adalah hari untuk menyegarkan tubuh dan jiwa, mencerminkan ritme istirahat yang dirancang Tuhan dalam penciptaan.

2. Ibadah Komunal:
– Ibadah adalah inti dari Sabat. Berkumpul dengan sesama orang percaya untuk memuji Tuhan dan menerima penguatan rohani adalah praktik penting dalam memelihara Sabat. Melalui nyanyian, doa, pengakuan dosa, dan mendengarkan firman Tuhan, orang Kristen diingatkan akan karya penebusan Tuhan dan diperbarui secara rohani.
– Emlet mendorong orang percaya untuk melihat ibadah hari Minggu bukan hanya sebagai kewajiban atau rutinitas, tetapi sebagai puncak dari minggu mereka. Ibadah dimaksudkan menjadi sumber sukacita, waktu untuk terhubung kembali dengan Tuhan dan komunitas gereja, serta gambaran awal dari istirahat kekal yang menanti di surga.

3. Berbuat Baik (Belas Kasih dan Keramahtamahan):
– Sabat adalah hari untuk tindakan belas kasih dan keramahtamahan. Mengikuti teladan Yesus yang menyembuhkan pada hari Sabat, orang Kristen dipanggil untuk memberikan istirahat dan kesegaran kepada orang lain. Ini bisa berupa mengundang orang lain ke rumah mereka untuk makan bersama, terlibat dalam percakapan yang bermakna, atau menjangkau mereka yang membutuhkan.
– Emlet berbagi cerita pribadi tentang bagaimana direktur residensinya yang beragama Kristen mengadakan makan malam Minggu untuk para residen medis, memberikan ruang untuk istirahat dan persekutuan di tengah kehidupan kerja mereka yang sibuk. Keramahtamahan semacam ini adalah ungkapan nyata dari kemurahan hati Allah, memungkinkan orang percaya untuk berbagi istirahat yang mereka alami dengan orang lain.

Menghindari Ekstrem dalam Memelihara Sabat
Mike Emlet memperingatkan tentang dua pendekatan ekstrem dalam memelihara Sabat:
– Terlalu Longgar: Pendekatan ini memperlakukan Sabat sebagai hari pribadi untuk melakukan apa pun yang diinginkan, yang sering kali mengarah pada aktivitas yang tidak benar-benar memberikan istirahat atau penyegaran. Emlet membandingkan hal ini dengan memanjakan diri dalam makanan ringan yang tidak sehat—memuaskan sejenak tetapi pada akhirnya meninggalkan rasa tidak puas.
– Terlalu Ketat: Sebaliknya, ada orang yang mungkin menerapkan pendekatan legalistik terhadap Sabat, dipenuhi dengan aturan-aturan kaku dan larangan. Ini membuat Sabat terasa membebani daripada memberikan sukacita. Emlet membandingkan hal ini dengan diet roti dan air—cukup untuk bertahan hidup tetapi tanpa kesenangan. Emlet menyarankan keseimbangan, di mana Sabat dilihat sebagai hari untuk kebebasan dan tanggung jawab, dengan istirahat yang dipandu oleh Kitab Suci dan selaras dengan tujuan Allah.

Sabat Eskatologis (Masa Depan):

Emlet menghubungkan praktik mingguan Sabat dengan istirahat Sabat kekal yang akan dialami oleh orang percaya di surga. Ibrani 4:9-10 mengingatkan orang Kristen bahwa masih ada istirahat Sabat bagi umat Allah, di mana mereka akan beristirahat dari pekerjaan mereka seperti yang dilakukan Allah. Istirahat kekal ini adalah puncak dari kehidupan Kristen, saat di mana kedamaian, sukacita, dan persekutuan dengan Allah yang tiada akhir akan terwujud.

Dalam terang ini, Sabat mingguan bukan hanya latihan untuk kekekalan, tetapi partisipasi dalam realitas istirahat kekal Allah yang sedang berlangsung. Orang Kristen diundang untuk mencicipi hidangan pertama dari pesta surgawi melalui praktik Sabat mereka, menantikan hari ketika mereka akan mengalami kepenuhan istirahat Allah di hadirat-Nya.

Kesimpulan :
Ulasan tentang Sabat ini menekankan pentingnya Sabat bukan hanya sebagai hari istirahat fisik, tetapi sebagai praktik suci yang menghubungkan orang percaya dengan karya penciptaan dan penebusan Allah yang terus berlangsung. Dengan memelihara Sabat, orang Kristen berpartisipasi dalam ritme istirahat yang dirancang oleh Tuhan dan mengantisipasi istirahat kekal mereka di dalam Kristus.

Refleksi dari (Jeffrey Lim) : Mari kita menikmati dan merayakan Sabat bagi orang-orang yang bergumul dengan Kesehatan mental supaya kita dapat beristirahat secara fisik dan disegarkan secara rohani melalui beribadah, memuji Tuhan, dan bersekutu dengan saudara seiman di gereja. Saya menantikan Sabat karena ini adalah cicipan Sabat di masa depan. Jangan kuatir hidup kita ga produktif waktu ga banyak aktivitas prodkutif di hari Sabat karena identitas kita bukan ditentukan oleh kinerja performa kita tetapi ditentukan oleh kasih Tuhan. Kita adalah anak-anak Allah yang dikasihiNYa, dipeliharaNya dan ditebusNYa.

Doa saya bagi teman-teman dengan GKM supaya kita refresh di hari ini dan semangat Kembali di hari-hari weekdays untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah Tuhan tetapkan sebelumnya (Ef 2:10)

Dari materi CCEF Conference 2024 oleh Mike Emlet

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword