Blog

Mengenal Diri: Menerima Diri dan Diubahkan

Mengenal Diri: Menerima Diri dan Diubahkan

Dikenal Allah, Mengenal Allah

Untuk benar-benar mengenal diri, kita harus terlebih dahulu mengenal Allah. Dan kita patut bersyukur, sebab sebelum kita mengenal Allah, kita sudah lebih dahulu dikenal oleh Allah. Dalam kasih karunia-Nya, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mengenal-Nya. Inilah kasih karunia yang mendahului segala usaha kita.

Kita dikenal Allah, dan kita diberi anugerah untuk mengenal-Nya. Mengenal Dia adalah hidup yang kekal, sebagaimana Yesus berkata:

> “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).

Mengenal Diri dan juga Menerima Diri

Sesudah kita mengenal Allah, kita dipanggil juga untuk mengenal diri. Dan mengenal diri yang utuh tidak bisa dilepaskan dari menerima diri.

Diri kita memiliki banyak sisi: ada bagian yang kita pandang baik, indah, dan layak; tetapi ada pula bagian yang kita anggap lemah, rusak, bahkan memalukan. Secara psikologis, manusia tidaklah sederhana; diri kita terdiri dari banyak aspek yang berlapis.

Pengenalan diri yang benar berarti berani menerima bagian diri yang “tidak oke.” Jika kita hanya mau menerima sisi diri yang baik, tetapi menolak sisi yang lemah, maka pengenalan kita masih dangkal. Sebaliknya, ketika kita sungguh mengenal diri, kita dipanggil untuk mengakui dan menerima seluruh keberadaan kita.

Namun, kita tidak berhenti di sana. Menerima diri bukanlah akhir, melainkan awal dari perubahan. Kita tidak bisa mengalami transformasi sejati tanpa terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dan syukurlah, kita dimampukan untuk menerima diri karena Allah sendiri telah menerima kita lebih dahulu.

Jika Allah yang kudus sudah menerima kita sebagai pendosa dan menjadikan kita anak-anak-Nya (Efesus 1:5), maka apa alasan kita untuk tidak menerima diri sendiri? Jika Allah tidak menolak kita, mengapa kita masih menolak diri kita?

Identitas Baru dalam Kasih

Kita mengasihi—bahkan termasuk mengasihi diri kita sendiri—karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kasih Allah bukan hanya memulihkan relasi kita dengan Dia, tetapi juga memulihkan relasi kita dengan diri sendiri.

Dengan demikian, identitas kita tidak lagi ditentukan oleh kegagalan, kelemahan, atau dosa-dosa masa lalu, melainkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.

Sebagai penyintas Gangguan Kesehatan Mental (GKM), kita sadar bahwa hidup kita penuh keterbatasan. Namun justru di dalam kesadaran itu, kita boleh belajar menerima diri apa adanya. Rasul Paulus sendiri bergumul dengan kelemahan, tetapi Tuhan berkata kepadanya:

> “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Karena itu, kita dapat tenang menghadapi kelemahan kita dan berkata dengan iman:

> “Aku menerima diriku, bukan karena aku sempurna, tetapi karena Allah sudah menerimaku di dalam Kristus.”

Dari dasar inilah kita diubahkan—bukan oleh kekuatan kita, melainkan oleh kuasa Roh Kudus yang membarui kita hari demi hari (2 Korintus 4:16).

Doa Pribadi: Menerima Diri dalam Kristus

Tuhan Yesus,
terima kasih karena Engkau lebih dahulu mengenal dan mengasihi aku.
Engkau menerima diriku dengan segala kelemahanku
dan menjadikanku anak-Mu.

Tolong aku, ya Tuhan,
untuk berdamai dengan diriku sendiri,
menerima kelemahan dan keterbatasan ini,
dan percaya bahwa kasih karunia-Mu cukup bagiku.

Ubahlah aku hari demi hari
oleh kuasa Roh Kudus-Mu,
supaya aku hidup sebagai manusia baru
yang serupa dengan Kristus.

Dalam nama Yesus aku berdoa.
Amin.

Jeffrey Lim

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword