Blog

Refleksi: Mengenal Siapakah Diri Kita

Refleksi: Mengenal Siapakah Diri Kita

Refleksi: Mengenal Siapakah Diri Kita
Jeffrey Lim

Teman-teman,
Kita sebagai penyintas GKM tentu rindu untuk mengenal diri kita sendiri. Kita membutuhkan pengenalan diri yang benar. Sebab, jika pengenalan diri kita salah, maka kita akan menjalani dan memaknai hidup secara salah.

Saya mau mengajak kita berpikir dengan sedikit pola pemikiran Descartes, di dalam usaha kita mencoba mempertanyakan apakah pengenalan diri kita saat ini adalah pengenalan diri yang benar. Nah, Descartes memulai dengan mempertanyakan apakah pengetahuan yang ia miliki benar. Dalam kasus refleksi kita, kita mencoba mempertanyakan pengetahuan akan diri kita.

Misalnya, kita mengenal diri kita sebagai orang yang baik. Sungguh benarkah pengenalan diri ini? Seberapa tepat Ataukah itu cuma pemikiran kita saja? Atau mungkin kita mengingat peristiwa dalam Alkitab, di mana Petrus dalam pengenalan dirinya merasa ia tidak akan menyangkal Yesus, bahkan ia bersedia mati bagi Yesus. Tetapi kemudian realita berbicara lain: Yesus sudah memperingatkan Petrus bahwa ia akan menyangkal Yesus, dan benar Petrus menyangkal Yesus.

Nah, mari kita coba bertanya-tanya. Benarkah pengenalan pribadi diri yang saya kenal—yaitu diri saya—adalah pengetahuan diri yang benar? Bagaimana kalau ternyata pemikiran kita, dalam kenyataannya, sedang ditipu oleh kuasa jahat yang jenius, sehingga kita memiliki pengetahuan yang selalu salah mengenai diri kita? Bagaimana kalau ternyata kenyataan diri kita dan hidup yang kita pikirkan dalam realitas sekarang ini ternyata cuma ilusi, seperti yang diceritakan dalam film *The Matrix*?

*The Matrix* (1999) menggambarkan manusia hidup dalam realitas simulasi buatan mesin. Dunia dan pengetahuan yang mereka alami hanyalah ilusi digital, sedangkan realitas sesungguhnya adalah tubuh mereka yang terhubung ke mesin. Film ini menjadi semacam alegori filsafat tentang pertanyaan: Apakah yang kita sebut “nyata” benar-benar nyata? Apakah mungkin seluruh pengalaman hanyalah tipuan?

Saya ambil contoh lain lagi: seorang filsuf Tiongkok bernama Zhuangzi pernah bermimpi tentang kupu-kupu. Kemudian ia terbangun. Ia memikirkan, apakah ia benar-benar berpikir tentang kupu-kupu? Ataukah sekarang seluruh keberadaan realitas dan pikirannya adalah sebaliknya—yaitu mimpinya kupu-kupu? Semua hal-hal ini bertujuan untuk mempertanyakan: Apakah pengetahuan dan pikiran kita itu sungguh real? Nyata?

Nah, teman-teman, bagi kita yang pernah mengalami psikotik, kita tahu bahwa pikiran kita tidak sesuai dengan realitas. Pikiran kita penuh dengan waham dan delusi. Sekarang kita sudah makan obat medis dan sudah stabil. Tetapi dari mana kita tahu bahwa pikiran kita sungguh real dan tidak delusif?

Atau mungkin, kalau di antara kita pernah mempunyai waham kebesaran: kita berpikir bahwa kita seorang presiden ataupun seorang superhero. Tetapi ketika mania itu lenyap, kita sadar bahwa pemikiran kita itu salah. Kita sadar siapa diri kita yang penuh kelemahan. Pertanyaan refleksinya adalah: dari mana kita tahu bahwa kita sekarang tidak sedang dalam waham—baik itu waham kebesaran maupun delusi-delusi lainnya?

Kembali kepada pemikiran yang meragukan segala pengetahuan: menurut Descartes, ketika kita meragukan semua hal, kita terus mencoba mengecek dan meragukannya—jangan-jangan semua ini hanyalah penipuan dan ilusi. Namun, kita akan tiba pada satu pemikiran yang solid dan menjadi fondasi, yaitu bahwa ada satu pengetahuan yang tidak bisa diragukan: bahwa kita sedang meragukan segala sesuatu. Dan pengetahuan itu menyatakan bahwa ketika kita sedang meragukan segala sesuatu, maka kita sedang berpikir. Dan karena kita sedang berpikir, maka kita ada. Kita *exist*. Kita berada. Itu satu realita yang tidak bisa disangkal.

Jadi, bagi Descartes, inilah pengetahuan dasar di mana segala pemikiran dan pengetahuan dibangun: *Aku berpikir maka aku ada.* *I think, therefore I am.* Dari sini, Descartes membangun dasar pengetahuan akan Allah, diri, dan realitas.

Tetapi saya ingin kita tidak mengikuti jalur pemikiran Descartes dengan cara meragukan. Sebaliknya, kita hendak memulai dengan iman dan kepercayaan kepada wahyu Allah, yaitu Alkitab. Alkitab menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya, dan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Kita sebagai manusia adalah gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan serupa dengan Allah, dan kita diciptakan untuk mengenal Allah serta memuliakan-Nya.

Adalah satu hal yang indah bahwa di dalam kita mengenal Allah, maka kita akan mengenal diri kita. Demikian juga, ketika kita mengenal diri sendiri yang sesungguhnya, maka kita makin mengenal Allah.

Thomas Merton mengatakan bahwa mengenal Allah dan mengenal diri itu tak terpisah. Merton menekankan bahwa kita tidak bisa mengenal diri yang sejati tanpa mengenal Allah, dan sebaliknya, kita mengenal Allah ketika kita sungguh mengenal diri kita. Jadi, menurut Merton, mengenal Allah adalah jalan menuju diri sejati. Mengenal diri sejati adalah mustahil tanpa masuk ke dalam Allah. Hidup rohani sejati berarti keluar dari ilusi diri palsu, masuk dalam kasih Allah, lalu kembali ke dunia dengan identitas yang diperbarui.

John Calvin sendiri, di pembukaan buku *Institutio*, mengatakan dan membuka dengan kalimat:
“Seluruh kebijaksanaan kita, yang sebenarnya pantas disebut kebijaksanaan sejati, terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita.”

Artinya, bagi Calvin: pengetahuan tentang Allah dan diri bukan dua hal terpisah, melainkan saling berkaitan erat. Tidak mungkin kita sungguh mengenal Allah tanpa mengenal diri kita, dan sebaliknya, kita tidak mungkin mengenal diri kita tanpa mengenal Allah.

*Mengenal Allah membuat kita mengenal diri.* Ketika kita menatap kekudusan, kebesaran, dan kebaikan Allah, kita melihat keterbatasan, kelemahan, dan keberdosaan kita. Contoh Alkitab: Yesaya ketika melihat Allah yang kudus berkata, “Celakalah aku! Aku binasa!” (Yesaya 6:5). Jadi, mengenal Allah ibarat cermin yang memperlihatkan siapa kita sebenarnya.

Sebaliknya, *mengenal diri membawa kita kepada Allah.* Di sisi lain, ketika kita mencoba mengenal diri kita, kita segera menyadari betapa kita:

* bergantung penuh pada Allah sebagai Pencipta,
* penuh dosa dan tidak mampu menyelamatkan diri,
* dan sangat membutuhkan kasih karunia Allah.

Dengan kata lain, pengetahuan diri menuntun kita untuk mencari Allah.

Karena itu, pengetahuan akan Allah dan diri adalah dinamika yang saling melengkapi.

* Tanpa Allah, pengetahuan diri hanya membuat kita sombong atau putus asa.
* Tanpa mengenal diri, pengetahuan Allah bisa dangkal, hanya intelektual tanpa menyentuh hati.

Maka, keduanya harus berjalan bersama: mengenal Allah membuat kita mengenal diri, mengenal diri membuat kita kembali kepada Allah.

Karena pengetahuan dan pengenalan diri kita berkaitan dengan pengenalan akan Allah, maka marilah kita berdoa seperti doa Agustinus:

“Ya Allah, biarlah aku mengenal Engkau, biarlah aku mengenal diriku.”
*Deus, noverim me, noverim Te.*

*Mengenal Allah dan Mengenal Diri dalam Anugerah*

Satu hal yang patut kita syukuri adalah bahwa kita dapat mengenal Allah bukan karena kemampuan atau usaha kita sendiri, melainkan semata-mata karena anugerah-Nya. Kita mengenal Dia karena terlebih dahulu kita sudah dikenal oleh-Nya. Inilah fondasi yang kokoh: Kedaulatan Kasih Karunia Allah yang memilih kita, serta kemahatahuan Allah yang mengenal kita sepenuhnya.

Alkitab menegaskan:
“Sebab di dalam kasih Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Efesus 1:4)

Dan lagi:
“Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.” (Yohanes 10:14)

Inilah sukacita iman kita: kita mengenal Allah karena terlebih dahulu kita dikenal-Nya. Kita mengenal diri kita dengan benar karena kita mengenal Allah, dan kita mengenal Allah karena kita dikenal oleh-Nya. Inilah pengetahuan yang tidak keliru, karena berakar pada kasih karunia yang kekal.

Syukur yang terbesar adalah bahwa Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah Kasih itu sendiri (1 Yohanes 4:8). Kita mengenal Dia sebagai Sang Kasih, dan kita dikenal-Nya dalam kasih itu. Dia telah memilih kita bahkan sebelum dunia dijadikan, untuk dijadikan anak-anak-Nya (Roma 8:29–30). Betapa agung kasih karunia ini!

Dengan demikian, dasar iman kita bukanlah pemikiran kita, bukan pula perasaan kita yang naik turun, melainkan fondasi yang kokoh: Kristus yang mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah gagal. Dialah batu karang yang teguh:
“Sebab tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11)

Kiranya kebenaran ini menjadi penghiburan, penguatan, dan berkat bagi kita semua.

Doa Mengenal Allah dan Mengenal Diri

Ya Allah yang Mahakasih,
Engkau mengenal aku jauh lebih dalam daripada aku mengenal diriku sendiri.
Segala jalan hidupku terbuka di hadapan-Mu, dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pandangan-Mu (Mazmur 139:1-4).

Tolonglah aku agar ketika aku belajar mengenal Engkau, aku juga boleh mengenal diriku dengan benar.
Tanpa Engkau, aku tidak dapat memahami siapa aku sebenarnya.
Tanpa kasih-Mu, aku hanya akan tersesat dalam gambaran yang salah tentang diriku.

Ya Tuhan, ajarlah aku bahwa identitasku bukan ditentukan oleh kelemahanku, dosaku, atau pikiranku sendiri,
melainkan oleh kasih karunia-Mu yang kekal di dalam Kristus Yesus.
Engkau telah memilih aku sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4),
dan Engkau telah menebus aku dengan darah Anak Domba yang kudus.

Biarlah aku semakin mengenal Engkau, Sang Kasih yang sejati,
sehingga aku pun mengenal diriku sebagai anak yang Engkau kasihi.
Ya Bapa, dalam mengenal Engkau aku menemukan diriku,
dan dalam dikenal oleh-Mu aku memiliki pengharapan yang pasti.

Dalam nama Yesus Kristus, Dasar hidupku yang kokoh, aku berdoa.
Amin.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword