Blog

Pushing throught Loneliness to Contentment

Pushing throught Loneliness to Contentment

Pushing Through Loneliness to Contentment
Cecilia Bernhardt di dalam CCEF Conference : Modern Problems

Seminar ini membahas cara mengatasi kesepian dengan pendekatan yang berpusat pada Alkitab, menekankan pentingnya mengandalkan Tuhan, kejujuran dalam doa, rasa syukur, dan tindakan yang penuh tujuan.

1. Pendahuluan: Kesepian yang Dirasakan Banyak Orang
Bernhardt memulai dengan menyatakan bahwa kesepian adalah pengalaman yang dihadapi semua orang pada suatu saat, terutama di zaman modern, meskipun kita memiliki konektivitas teknologi yang terus-menerus. Dia membahas bagaimana COVID-19 memperparah masalah ini, terlihat dari meningkatnya laporan tentang kesepian dan kecemasan. Beberapa negara, seperti Inggris, bahkan telah membentuk posisi khusus untuk menangani masalah kesepian, menunjukkan betapa besar dampaknya terhadap individu dan masyarakat

2. Memahami Kesepian vs. Isolasi
Bernhardt membedakan antara isolasi dan kesepian:
– Solitude Positif: Waktu sendirian yang memberi kesempatan untuk refleksi diri, doa, dan mendekat kepada Tuhan. Jenis solitude ini bisa mengisi dan memperkuat. Yesus sendiri sering mencari waktu untuk menyendiri dalam doa, seperti dalam Lukas 5:16: “Tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”
– Kesepian: Kondisi yang menyakitkan di mana seseorang merasa tidak diinginkan, biasanya disertai dengan kesedihan, kecemasan, dan depresi. Tidak seperti solitude, kesepian muncul ketika seseorang merasa terpaksa sendirian dan tidak memiliki pilihan.

3. Dua Pendekatan dalam Mengatasi Kesepian: Mencari Penghiburan Sendiri vs. Mengandalkan Tuhan
Bernhardt menguraikan dua cara utama dalam menghadapi kesepian:

– Mencari Penghiburan Sendiri: Berusaha meredakan kesepian melalui cara-cara yang ditentukan sendiri. Dia memperingatkan bahwa mengalihkan perhatian melalui konsumsi alkohol berlebihan, narkoba, atau hiburan seperti TV atau media sosial mungkin hanya memberikan penghiburan sementara dan bisa berujung pada kecanduan. Roma 13:13-14 memperingatkan kita untuk “hidup sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan… Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang, dan jangan merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.”

– Mengandalkan Penyediaan dari Tuhan: Beralih pada Tuhan untuk mencari penghiburan dan makna. Alih-alih mengisi kekosongan dengan cara-cara duniawi, Bernhardt mendorong untuk mendekat pada Tuhan dan menemukan ketenangan dalam hadirat-Nya. Filipi 4:6-7 mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”

4. Hadirat Tuhan sebagai Penghiburan Terbesar
Bernhardt menekankan bahwa orang Kristen tidak pernah benar-benar sendirian, menunjuk pada nama Immanuel (Matius 1:23), yang berarti “Allah menyertai kita,” sebagai pengingat bahwa Tuhan selalu hadir. Dia mengutip Roma 8:38-39 yang meyakinkan bahwa “baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah… maupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Bernhardt juga menambahkan bahwa Yesus, yang digambarkan “lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:28-30), mengundang orang percaya untuk datang kepada-Nya dengan segala beban mereka dan Ia akan memberi kelegaan. Mengingat bahwa Yesus adalah “sahabat bagi orang berdosa” (Matius 11:19) memberikan kenyamanan bahwa Dia dekat dengan kita di tengah kesulitan dan kesepian kita.

5. Pentingnya Doa yang Jujur dan Terbuka
Bernhardt mendorong hubungan yang jujur dan tulus dengan Tuhan. Alih-alih menahan emosi, kita diundang untuk menyampaikan segala perasaan kita, termasuk kebingungan, keraguan, bahkan kemarahan. Filipi 4:6 mendorong, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Dia menceritakan kisah seorang konseli yang merasa marah pada Tuhan namun takut mengakui perasaannya. Ketika akhirnya dia jujur dengan perasaannya kepada Tuhan, itu menjadi titik awal bagi hubungan yang lebih mendalam dengan-Nya, menunjukkan bahwa Tuhan lebih mengutamakan kejujuran daripada kepura-puraan.

6. Melatih Rasa Syukur sebagai Perlindungan terhadap Kesepian
Bernhardt menekankan pentingnya praktik rasa syukur untuk mengalihkan fokus dari diri sendiri ke berkat-berkat yang telah Tuhan berikan. Dia menyarankan untuk membuat daftar berkat sebagai pengingat di saat-saat sulit, yang sesuai dengan pesan dalam 1 Tesalonika 5:18: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Dengan mengingat kesetiaan Tuhan, kita dapat merasakan sukacita dan kepuasan bahkan di musim kesepian.

7. Kisah Perempuan Samaria sebagai Model Penerimaan dan Transformasi
Bernhardt menggunakan kisah Yesus dan perempuan Samaria (Yohanes 4) sebagai contoh utama:
– Yesus Melampaui Batas Sosial: Yesus, seorang pria Yahudi, berbicara dengan perempuan Samaria, melampaui batas budaya dan gender, menunjukkan bahwa Dia menghargai setiap individu secara mendalam.
– Yesus Menyatakan Kebenaran Pribadi: Meski mengetahui latar belakang dan pergumulannya, Yesus menawarkan “air hidup,” yang melambangkan Roh Kudus dan hidup baru dalam-Nya (Yohanes 4:13-14).
– Dampak Transformasi: Perempuan Samaria itu meninggalkan tempayannya dan memberitahu orang lain tentang Yesus, menunjukkan bagaimana pertemuan pribadi dengan Dia mengubah harga diri dan tujuan hidupnya.

Kisah ini mengilustrasikan bahwa Tuhan mengasihi setiap orang dan menginginkan hubungan yang tulus dengan mereka yang merasa terpinggirkan atau tidak dihargai.

8. Penerimaan vs. Kepasrahan
Bernhardt membedakan antara penerimaan dan kepasrahan:
– Kepasrahan: Sikap pasif dan putus asa, seperti Eeyore dalam Winnie the Pooh.
– Penerimaan: Sikap proaktif yang penuh iman, seperti Sam Gamgee dalam The Lord of the Rings, yang menerima beban dengan harapan dan kekuatan. Pendekatan ini mendorong kita untuk melihat situasi kita saat ini sebagai bagian dari rencana Tuhan, sambil percaya pada bimbingan-Nya.

Filipi 4:11-13 menggambarkan prinsip ini, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan… Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Menerima kehendak Tuhan, daripada menyerah pada keadaan, mengubah kesepian menjadi kesempatan untuk pertumbuhan rohani.

9. Hidup di Saat Ini Bersama Yesus
Bernhardt menekankan pentingnya fokus pada saat ini, menghindari penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan, karena hal itu mengganggu hubungan dengan Yesus saat ini. Ia mengutip ajaran Yesus dalam Matius 6:34, “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.” Sebaliknya, kita diajak untuk merangkul hari ini sebagai kesempatan untuk bertemu dengan Yesus, tumbuh dalam iman, dan menemukan kekuatan dalam-Nya.

10. Menghubungkan Diri dengan Orang Lain dan Melayani sebagai Obat untuk Isolasi
Bernhardt menekankan nilai hubungan antarmanusia dan pentingnya komunitas dalam mengatasi kesepian. Dia melihat gereja sebagai tempat dukungan, menganjurkan agar kita mencari cara untuk melayani orang lain. Ibrani 10:24-25 mendukung hal ini, mengajak kita untuk “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati.” Pelayanan tidak hanya membawa manfaat bagi yang membutuhkan tetapi juga memberi tujuan dan persahabatan bagi yang melayani.

11. Menghindari Rasa Kasihan Diri: “Pembunuh yang Halus”
Bernhardt memperingatkan bahwa rasa kasihan pada diri sendiri adalah “pembunuh yang halus” yang bisa terasa menenangkan tetapi sebenarnya memperdalam keputusasaan. Dia mengutip The Horse and His Boy dari The Chronicles of Narnia, di mana Shasta merasa tidak beruntung dan sendirian sampai dia menyadari bahwa Aslan selalu bersamanya. Ini sejalan dengan kebenaran dalam Mazmur 139:7-10, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?… tangan-Mu juga yang akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”

Mengasihani diri sendiri hanya membuat seseorang semakin terfokus pada diri sendiri dan menjauh dari Tuhan. Sementara mengenali kehadiran dan kepedulian Tuhan dapat membantu kita membingkai ulang pengalaman, menemukan pengharapan dan kekuatan di dalam Dia.

12. Penutup: Menawarkan Kristus sebagai Sahabat bagi Orang Lain
Bernhardt mengakhiri dengan mengundang hadirin untuk memperkenalkan Yesus kepada orang-orang di sekitar mereka yang merasa kesepian, seperti “Karen” dalam contoh yang ia sebutkan. Dia menekankan bahwa persahabatan dengan Kristus bisa mengubah kesepian menjadi pengalaman yang penuh hubungan dengan Tuhan, kedamaian, dan tujuan hidup. Pendekatan yang berpusat pada kasih dan kedaulatan Tuhan ini tidak hanya memperlengkapi kita untuk menghadapi kesepian sendiri tetapi juga untuk memberikan pengharapan dan persahabatan bagi orang lain.

Ringkasan
Dalam keseluruhan seminar ini, Bernhardt menawarkan panduan yang holistik dan berbasis Alkitab untuk menghadapi kesepian, mengandalkan persahabatan dengan Tuhan, dan menemukan sukacita serta tujuan di dalam-Nya. Dengan mengenali kedaulatan Tuhan, doa yang jujur, praktik rasa syukur, dan menjangkau orang lain, kita bisa menemukan kepuasan dan makna hidup, bahkan di musim kesepian.

Refleksi dari Jeffrey Lim : Di jaman yang makin individualis ini, banyak orang merasa makin kesepian. Saya pribadi menemukan untuk mengatasi pergumulan ini dalam diri adalah dengan mendekatkan diri sama Tuhan dan dengan melayani sesama. Waktu melayani sesama kita dibawa keluar dari diri kita dan memperhatikan orang lain dan ternyata dengan memberi perhatian kita juga dalam anugerah Tuhan dipuaskan. Di pelayanan Seeing with New Eyes Support Group dan juga pelayanan Persekutuan Doa seeing with new eyes, saya bersyukur selain dalam anugerah boleh menjadi berkat bagi orang lain namun selain itu juga sangat memberkati saya. Memang sebenarnya obat kesepian itu hidup dalam kasih Tuhan. Dikasihi Tuhan mengasihi Tuhan. Mengasihi sesama dan dikasihi sesama. Puji Tuhan !

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword