Blog

When churches are silent about Mental Health

When churches are silent about Mental Health

Dr. Herawati, S.TP, M.Th

Seminar oleh Dr. Herawati menyoroti pentingnya gereja berperan aktif dalam isu kesehatan mental. Ia menekankan bahwa gereja dan pendidikan teologi perlu mengintegrasikan pemahaman psikologis serta spiritualitas agar bisa membantu individu menghadapi tantangan mental secara holistik. Dr. Herawati menunjukkan bagaimana gereja selama ini memiliki perhatian terhadap isu ini, tetapi sering melihat masalah kesehatan mental lebih pada aspek dosa dan moralitas, sebaliknya posisi yang lain ilmu psikologi yang menekankan aspek fisiologis dan psikologis ( pendulum lain ).

Penting bagi gereja, menurutnya, untuk tidak hanya menawarkan nasihat moral tetapi juga menyediakan dukungan yang lebih manusiawi dan ilmiah. Dia mencatat bahwa gereja dapat melatih para pemimpin dan jemaat untuk mendengarkan tanpa menghakimi, mengembangkan sistem pendukung di dalam komunitas gereja, dan menciptakan stigma positif agar mereka yang mengalami masalah mental merasa diterima dan didukung.

Selain itu, Dr. Herawati menyarankan gereja bekerja sama dengan psikolog, psikiater, serta komunitas akademik untuk lebih memahami kesehatan mental. Kolaborasi ini diharapkan akan memperkuat kemampuan gereja dalam memberikan bantuan yang efektif kepada mereka yang menderita masalah kesehatan mental, sehingga gereja bisa menjadi tempat yang aman dan penuh dukungan.

Refleksi dari saya ( Jeffrey Lim ) : Pergumulan gangguan Kesehatan mental adalah pergumulan dengan aspek bio, psiko, sosial dan spiritual. Terlalu menekankan medical model akan jatuh ke dalam wawasan dunia materialisme, ateisme dan manusia cuma dilihat fisik chemicalnya aja. Sebaliknya terlalu menekankan aspek moralitas juga tidak seimbang akan tidak membuat GKM mengalami kebebasan. Karena letter kill dan Spirit gives life. Aspek spiritualitas itu sebenarnya sangat positif dan dapat memberikan GKM lebih tahan di dalam menghadapi badai hidup tetapi juga harus holistik dengan aspek lainnya seperti aspek bio, psiko, sosial. Penanganan GKM harus holistik.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword