Dalam Psikological Pain, Kristus Turut Memikul Bersama Saya
Renungan Pergumulan rasa sakit psikologis sebagai GKM
Jeffrey Lim
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, namun terasa sangat jelas di batin. Itulah sakit psikologis — psychological pain — yang sering muncul sebagai sisa dari trauma, luka masa lalu, dan pergumulan panjang dalam pemulihan bipolar saya. Meski pemulihan terus terjadi, ada bagian-bagian batin yang masih perih. Dan itu adalah bagian dari realitas jatuhnya manusia dan kedalaman pergumulan hidup di dunia yang rusak.
Namun di tengah rasa sakit itu, saya makin menyadari sesuatu yang lembut tetapi sangat kuat: sakit psikologis ini bisa dibawa kepada Tuhan Yesus. Bukan sebagai beban yang harus saya sembuhkan sendiri, melainkan sebagai sebuah pergumulan yang dapat diarahkan, diceritakan dan dibaringkan di kaki salib Tuhan Yesus.
Ini tidak berarti rasa sakit itu hilang. Tidak berarti trauma itu tertutup begitu saja. Tetapi maknanya berubah. Ketika saya membawa rasa sakit itu ke salib, saya menyadari bahwa saya tidak memikulnya sendirian. Ada Pribadi yang memikulnya bersama saya, bahkan terlebih dahulu memikul penderitaan manusia: Yesus Kristus.
Kristus yang “Co-passion”—Menderita Bersama dengan kita
Dalam tradisi Latin, compassion berarti co (bersama-sama) dan passion (menderita).
Artinya belas kasihan bukan hanya perasaan lembut, tetapi sebuah kehadiran yang ikut masuk ke dalam luka saya, ikut merasakan pergumulan saya, ikut memikul berat yang ada di hati saya.
Ini adalah kabar baik :
Tuhan kita tidak jauh dari penderitaan kita. Dia tidak hanya mengetahui. Dia turut masuk. Dia turut menderita bersama.
Alkitab berkata:
“Sebab Imam Besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, melainkan Imam Besar yang telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani 4:15 TB)
Tuhan Yesus tidak hanya mencintai saya dari kejauhan; Ia ikut masuk ke dalam cerita sakit saya dan menanggungnya bersama saya. Begitu juga dengan cerita sakit psikologis kita semua : teman GKM dan Caregiver sekalian.
Persekutuan dalam Penderitaan: Luka yang Memiliki Makna Baru
Ketika kita belajar membawa psikological pain ini ke hadapan Tuhan dan mengikut Dia, kita mulai mengalami apa yang Paulus maksudkan:
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya…” (Filipi 3:10–11, TB)
Persekutuan dalam penderitaan Kristus berarti:
* Sakit kita bukan hanya sakit kita sendiri.
* Luka kita bukan hanya luka manusiawi yang sepi.
* Pergumulan kita menjadi bagian dari perjalanan rohani bersama Kristus.
Kita bukan hanya orang yang menderita; Kita menjadi seseorang yang *bersekutu dengan Kristus melalui penderitaan*. Bahkan, ketika kita memikul “duri dalam daging” ini, kita memikulnya dalam terang kasih-Nya—bersama Dia, bukan sendirian.
Maka psychological pain saya memiliki cerita baru. Ada dimensi baru:
penderitaan ini menjadi tempat pertemuan saya dengan Tuhan.
Tuhan Yang Menopang dalam Rasa Sakit
Di tengah rasa sakit psikologis:
* saya belajar tidak lagi panik,
* saya belajar tenang dalam naungan-Nya,
* saya belajar percaya bahwa Dia turut memikul,
* saya belajar bahwa saya tidak ditinggalkan.
Memikul Salib Bersama Kristus Adalah Jalan Sukacita dan Damai Sejahtera
Ketika saya belajar membawa psychological pain ini kepada Tuhan setiap hari di dalam perjalanan mengikut Dia, maka saya sebenarnya sedang memikul salib bersama Dia. Dan justru dalam memikul salib itu, Tuhan memampukan saya mengikuti Dia.
Dan mengikuti Dia adalah jalan sukacita—bukan karena rasa sakitnya hilang, tetapi karena saya berjalan tidak sendiri.
Psikological pain mungkin datang dan pergi. Namun setiap kali itu muncul, saya ingat:
Kristus ada. Kristus hadir. Kristus turut memikul.
Dan saya pun dapat berkata:
“Saya berjalan bersama Tuhan. Dan itu cukup.”
Jeffrey Lim
5-12-2025
![]()