Blog

Belajar Melangkah dari Ketakutan Menuju Kasih

Belajar Melangkah dari Ketakutan Menuju Kasih

Ayat:

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

1 Yohanes 4:18 (TB)

Pagi ini saya diingatkan kembali oleh ajaran Tuhan Yesus dan melalui bacaan tentang Henri Nouwen mengenai panggilan untuk mengasihi dan mendoakan musuh. Tetapi ketika saya merenungkannya, saya melihat sesuatu yang lebih dalam di dalam diri saya sendiri: ternyata saya sering tidak bisa atau sulit mengasihi bukan karena orang itu jahat, tetapi karena saya takut.

Saya takut orang tertentu dapat melukai saya, merendahkan harga diri saya, atau membuat saya merasa kecil. Ketika seseorang tampak mengancam nilai diri saya, saya secara otomatis menempatkan dia di posisi “musuh” — bukan secara terang-terangan, tetapi di dalam hati.

Dan dari sanalah saya bisa mulai menjauh, tidak mau bersekutu, sulit berelasi, bahkan dengan orang-orang yang dulu dekat dengan saya. Luka masa lalu, rasa minder, dan ketidakamanan batin membuat saya melihat hubungan manusia bukan dari kacamata kasih, tetapi dari kacamata ancaman yang mengganggu. Sebenarnya dibalik semua ini ada juga berhala takut akan manusia dan pandangan mereka. Di dalam takut kita sulit mengasihi. Dalam takut bahkan kita bisa jadi paranoid.

Alkitab mengatakan bahwa orang yang tidak mengasihi masih hidup di dalam kegelapan (1 Yohanes 2:9-11). Hari ini saya menyadari bahwa kegelapan itu bukan hanya berupa dosa-dosa besar, tetapi juga ketakutan yang membungkus hati saya—ketakutan yang bersumber dari kejatuhan manusia.

Seperti Adam yang setelah jatuh dalam dosa menjadi bersembunyi dan berkata, “Aku takut.”

Saya pun bisa menghidupi dalam pola itu. Takut menjadi suara besar dalam jiwa saya, sehingga saya sulit melihat orang lain sebagaimana Tuhan melihat mereka.

Tetapi firman Tuhan juga menunjukkan:

Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.

Kasih bukan lahir dari usaha saya—kasih lahir dari pemahaman bahwa saya sudah diperdamaikan dan diampuni oleh Tuhan.

Jika saya sudah diampuni, mengapa saya masih hidup seperti orang yang belum aman?

Jika Tuhan sudah menerima saya, mengapa saya masih ketakutan bahwa manusia bisa merusak nilai diri saya?

Maka hari ini, saya mengambil langkah kecil namun penting.

Saya mungkin belum punya kekuatan untuk memulihkan semua relasi saya. Saya mungkin belum punya hikmat untuk menyelesaikan semua konflik-konflik relasi di hidup saya. Tetapi saya bisa mulai dengan mendoakan mereka.

Mendoakan orang yang saya anggap “melukai saya” adalah langkah pertama keluar dari kegelapan. Mendoakan orang yang saya anggap mengancam saya. Saya percaya ini cara Tuhan menyembuhkan luka saya dan melenturkan hati saya. Saya percaya ini cara Tuhan mengganti ketakutan dengan kasih.

Saya telah diperdamaikan dengan Tuhan—dan itu cukup untuk memulai perjalanan baru ini. Dari hari ini sampai kedatanganNya yang kedua.

Kiranya Tuhan menolongku melihat karena saya dikasihi Tuhan, saya mau memulai Langkah kasih. Saya lahir dari Allah yang adalah kasih dan saya memilih untuk hidup dalam kasihNya dan mengasihi.

Soli Deo Gloria

Refleksi Jeffrey Lim ( 3 Desember 2025 )

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword