Mania dan Pencobaan “Mau Menjadi Seperti Allah”
Refleksi pribadi: pergumulan rohani di balik pergumulan fisik bipolar disorder
Ada satu hal yang semakin saya, Pak Jeffrey, sadari selama bertahun-tahun bergumul dengan bipolar disorder: bahwa di balik pergumulan biologis dan psikologis, Tuhan sedang membuka sesuatu yang jauh lebih dalam—pergumulan hati, identitas, relasi, dan kerohanian.
Bipolar disorder bukan hanya urusan naik-turunnya suasana hati, atau gangguan neurotransmitter, atau ketidakseimbangan kimia otak. Itu semua benar, dan saya menghormatinya sebagai realitas medis. Namun, di lapisan yang lebih dalam, saya melihat betapa Tuhan memakai semua ini untuk mengungkapkan kondisi hati saya yang sebenarnya.
Dalam refleksi kali ini, saya ingin mengajak kita melihat bahwa pergumulan bipolar bukan hanya pergumulan fisik atau kimia otak saja. Di balik pergumulan fisik, ada juga pergumulan rohani yang nyata.
Ibu Pdt. Rachmiati pernah berkata, “Seseorang harus mengenal Allah barulah ia dapat mengenal dirinya, dan menjadi tahu diri.” Ketika saya melihat kembali perjalanan hidup saya, saya menyadari bahwa sebagai seseorang yang bergumul dengan bipolar, saya juga bergumul dengan pengenalan akan diri saya sendiri. Sering kali saya tidak benar-benar mengenal diri saya, dan Tuhan memakai kegagalan demi kegagalan untuk membentuk saya menjadi lebih rendah hati dan lebih mengenal diri dengan benar.
Dari sudut pandang psikiatri, benar bahwa bipolar adalah gangguan pada otak. Namun manusia bukan hanya tubuh fisik. Kita memiliki aspek bio–psiko–sosial–spiritual. Setelah mengalami pergumulan bipolar bertahun-tahun, saya justru semakin takut pada fase mania dibanding depresi, karena fase mania membawa kerentanan rohani yang unik.
Di bawah ini adalah beberapa refleksi mengapa mania sering membawa pencobaan untuk menjadi seperti Allah (Kejadian 3:5).
Dan dalam proses itu, saya menemukan sesuatu yang menakutkan sekaligus jujur: bahwa mania sering membawa pencobaan untuk “menjadi seperti Allah”.
Persis seperti yang ditawarkan ular kepada Hawa: “…kamu akan menjadi seperti Allah.” (Kejadian 3:5)
Refleksi ini adalah perjalanan saya mengenali dosa, kehancuran, pengharapan, dan anugerah di tengah siklus depresi hingga mania.
1. Depresi: ketika saya jatuh ke titik paling rendah dan merasa tidak berarti
Fase depresi bagi saya adalah fase di mana saya melihat sisi tergelap dari diri saya. Di fase ini, saya merasa seperti tidak ada gunanya, tidak layak, tidak mampu. Pikiran saya dirusak rasa bersalah, malu, dan benci diri.
Depresi membuat saya merasa kecil. Sangat kecil.
Sering kali saya merasa tidak ada motivasi. Tidak ada masa depan. Semua tampak hampa. Saya tahu secara medis bahwa ini bagian dari penyakit, tetapi di sisi batin, saya mulai mendengar bisikan-bisikan tuduhan:
• “Kamu gagal.”
• “Kamu tidak berguna.”
• “Kamu mengecewakan semua orang.”
• “Kamu buruk”
Saya tidak terima keadaan diri sendiri, marah kepada diri sendiri yang secara terselubung mengakibatkan depresi.
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” (Mazmur 42:6)
Depresi membuat dunia saya gelap. Tetapi di fase inilah Tuhan memproses kesombongan saya, mematahkan keakuan saya, dan menunjukkan kelemahan saya yang sesungguhnya.
Namun sayangnya, setelah mengalami depresi yang dalam, hati saya merindukan satu hal: pelarian.
Dan pelarian itu biasanya muncul dalam bentuk hipomania.
2. Hipomania: ketika saya merasa ‘hidup’, ‘berarti’, dan ‘hebat’
Saya harus jujur: Hipomania terasa sangat menyenangkan. Teman-teman GKM yang mengalami mania pasti merasa menyenangkan.
Tiba-tiba saya kembali merasa kreatif. Ide-ide mengalir. Saya merasa produktif, bertenaga, dan bisa melakukan banyak hal.
Saya merasa seperti versi terbaik dari diri saya. Saya tidak butuh tidur. Saya ingin terus bekerja, berkarya, bergerak. Saya merasa sedang luar biasa (padahal itu tidak benar). Saya juga mulai percaya pada pikiran-pikiran yang mengangkat diri sendiri.Saya mulai menikmati perasaan “besar”.
Perasaan “istimewa”.
Perasaan “berbeda dari orang lain”.
Inilah pintu menuju mania.
Dan dari sinilah pencobaan itu masuk.
3. Mania: ketika saya ingin menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang baik
Ketika mania datang secara penuh, batasan-batasan yang sebelumnya saya pegang mulai kabur. Saya tidak mau dikendalikan siapa pun. Tidak orang tua, tidak teman, tidak hamba Tuhan, bahkan tidak Tuhan.
Saya mau memegang kendali hidup saya sendiri.
Saya ingin bebas.
Saya ingin berdaulat.
Saya mulai:
• mengatur kehidupan sendiri tanpa hikmat
• menolak nasihat
• marah ketika ditegur
• boros tanpa kendali
• melompat dari satu keputusan ke keputusan lain
• memaksakan kehendak
Sikap ini persis seperti Israel ketika mereka mau hidup menurut cara mereka sendiri:
“Setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”
(Hakim-hakim 21:25)
Di fase mania, saya merasakan godaan itu:
ingin menjadi pusat alam semesta saya sendiri.
Ingin menentukan sendiri apa yang benar.
Ingin hidup tanpa batas.
Ingin hidup tanpa tunduk.
Dan ketika seseorang yang “ingin menjadi seperti Allah” digabungkan dengan ketidakstabilan kimia otak—hasilnya adalah kehancuran:
RSJ, relasi rusak, uang habis, konflik, rasa malu, dan penyesalan.
4. Pergumulan identitas: di depresi saya minder, di mania saya sombong
Semakin lama saya merenung, saya melihat bahwa:
• depresi adalah versi ekstrem dari merasa tidak berharga,
• mania adalah versi ekstrem dari merasa terlalu berharga.
Keduanya bukan identitas yang sehat.
Keduanya tidak benar di hadapan Tuhan.
Depresi membuat saya merasa bukan siapa-siapa.
Mania membuat saya merasa lebih dari siapa pun.
Keduanya saling memelihara dan saling memperkuat.
Pada depresi, saya ingin membuktikan diri.
Pada mania, saya merasa saya sudah membuktikan diri.
Pada saat depresi bisa menganggap diri sangat tidak berarti
Pada saat mania, mempunyai waham kebesaran
Keduanya bersumber dari satu hal yang sama:
ketidakmampuan menerima identitas saya sebagai ciptaan yang terbatas dan membutuhkan Tuhan.
Jika saya menganalisis diri, depresi dan mania sebenarnya menggambarkan dua kutub pergumulan identitas: minder dan sombong.
• Saat depresi → kita merasa bukan siapa-siapa → minder.
• Saat mania → kita merasa lebih dari siapa pun → sombong.
Keduanya sama-sama kesia-siaan (Pengkhotbah 1:2).
Pada depresi, kita kecewa karena tidak mencapai standar yang kita tetapkan atau yang kita ingin menyenangkan orang lain—standar yang sering kali menjadi ilah.
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”
(Keluaran 20:3)
Ketika hidup ingin menyenangkan diri sendiri dan orang lain demi diterima, pada akhirnya opini manusia dapat menjadi berhala baru.
5. Keinginan menjadi Juru Selamat bagi diri sendiri
Depresi membuat saya ingin “menyelamatkan diri” melalui mania.
Saya pikir:
“Kalau saya produktif, kalau saya berkarya, kalau saya mencapai sesuatu, saya akan sembuh.”
“Kalau saya hebat, saya bisa menebus kegagalan saya.”
“Kalau saya kreatif, saya tidak akan merasa rendah diri lagi.”
Saya sedang berusaha menjadi juruselamat bagi diri saya sendiri.
Padahal Tuhan berkata:
“Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
(Yohanes 15:5)
Mania adalah cara saya lari dari rasa malu, rasa bersalah, dan kerapuhan. Tetapi mania justru menghasilkan kehancuran yang lebih dalam.
Dan ketika mania runtuh, saya kembali jatuh ke depresi yang lebih gelap.
6. Siklus rasa bersalah dan menghukum diri
Setelah mania berakhir, depresi datang lagi—lebih berat dari sebelumnya.
Saya melihat:
• keputusan-keputusan bodoh,
• materi banyak habis
• relasi rusak,
• kata-kata menyakitkan yang saya ucapkan,
• beban keluarga,
• kehancuran yang saya buat.
Saya merasa kesal pada diri sendiri.
Saya menghukum diri.
Saya ingin bersembunyi dan melarikan diri.
Kadang muncul pikiran-pikiran ekstrem. Mungkin dalam kasus orang lain dapat mengakibatkan sampai bunuh diri. Tetapi di dalam kasus saya, saya merasa tidak layak menghadap Tuhan. Namun Tuhan tidak meninggalkan saya.
7. Pencobaan untuk menutupi dosa: menyalahkan orang lain dan menyalahkan otak
Saat melihat semua kehancuran yang saya perbuat, saya kadang tergoda mengatakan:
• “Ini bukan salah saya, ini salah bipolar saya.”
• “Ini salah kimia otak.”
• “Ini salah orang-orang yang tidak mengerti saya.”
Tetapi Roh Kudus mengingatkan saya:
“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung…” (Amsal 28:13)
Saya tidak boleh bersembunyi di balik istilah medis untuk menutupi dosa
Lalu bagaimana saya melihat Injil sebagai solusinya?
Di tengah pergumulan panjang ini, saya melihat bahwa Injil adalah satu-satunya alasan saya tidak tenggelam.
Injil bukan membuat bipolar saya hilang, tetapi Injil membuat saya:
• melihat diri dengan jujur
• merendahkan diri
• bertobat
• menerima diri
• mengasihi orang lain
• menguasai diri lebih lagi
• berjalan dalam ketaatan
• dan berharap kepada Tuhan
• Berharap bukan kepada mania, bukan kepada perasaan, bukan kepada pencapaian.
Dalam Injil:
1. Allah menerima saya apa adanya
Walau saya penuh kejatuhan, Kristus mati bagi saya.
“Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita…” (1 Petrus 3:18)
2. Allah menegur dan memulihkan saya
Tuhan tidak membuang saya, tapi menegur karena Dia mengasihi.
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar…” (Wahyu 3:19)
3. Allah memberi identitas baru
Identitas saya bukan “orang bipolar”, tetapi “anak Allah”.
“Tetapi kamu adalah bangsa yang terpilih…” (1 Petrus 2:9)
4. Allah memampukan saya menguasai diri
Penguasaan diri bukan berasal dari kekuatan saya.
“Buah Roh adalah… penguasaan diri.” (Galatia 5:22–23)
5. Allah mendamaikan saya dengan diri saya sendiri
Ketika saya menerima kasih Allah, saya bisa berdamai dengan diri saya yang rusak.
Penutup: Tuhan memakai bipolar untuk merendahkan, mendidik, dan memperbarui saya
Saya tidak ingin memuliakan penyakit saya, tetapi saya bersyukur karena melalui semua ini Tuhan membentuk karakter saya. Tuhan memperlihatkan saya siapa diri saya yang sebenarnya—baik kebusukan maupun potensi yang ditebus-Nya.
Bipolar membuat saya melihat kebanggaan tersembunyi saya.
Bipolar membuat saya sadar saya ingin menjadi Allah bagi diri saya sendiri.
Bipolar membuat saya melihat betapa saya membutuhkan Kristus setiap hari.
Problema yang lebih dalam dari bipolar itu bukan hanya problema medis tapi problema relasi saya dengan diri, dengan sesama dan secara ultimate dengan Tuhan
Dan di tengah semua pergumulan ini, saya tetap percaya Injil dan anugerah Tuhan:
“Anugerah-Ku cukup bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
(2 Korintus 12:9)
Kiranya pergumulan ini membentuk saya menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih taat, lebih menguasai diri, dan lebih memuliakan nama Tuhan
24–11–2025
Jeffrey Lim
![]()