Blog

Kesaksian : Pembelajaran yang berharga dalam Fase Depresi

Kesaksian : Pembelajaran yang berharga dalam Fase Depresi

Jeffrey Lim

Secara umum, setiap orang menyukai pencapaian. Hal ini wajar karena pencapaian sering kali dikaitkan dengan nilai diri. Banyak orang menggantungkan nilai diri pada kinerja, produktivitas, kreativitas, dan hasil yang dicapai. Identitas sering kali ditentukan oleh hal-hal tersebut.

Namun, bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental, khususnya Gangguan Bipolar, kondisi ini dapat membawa seseorang ke dalam dua fase utama: Fase Depresi dan Fase Mania. Sebenarnya, ada fase di antara keduanya, yaitu Fase Hipomania, yang cenderung lebih diharapkan. Mengapa? Karena dalam fase ini, seseorang berada dalam keadaan yang lebih aktif, kreatif, produktif, energik, percaya diri, dan menghasilkan.

Sebaliknya, Fase Depresi adalah fase yang sering tidak diinginkan karena seseorang dapat mengalami kekurangan energi, sulit berkonsentrasi, rasa bersalah yang berlebihan, kecemasan, serta kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Akibatnya, seseorang menjadi lebih pasif, kurang kreatif, tidak produktif, kurang percaya diri, dan akhirnya merasa tidak berguna.

Namun, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan bahwa Fase Depresi juga memiliki keindahannya tersendiri. Seperti yang tertulis dalam Pengkhotbah 3:11:
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Kalimat “segala sesuatu indah pada waktunya” bukan hanya berbicara tentang keindahan di akhir waktu, tetapi juga tentang keindahan yang ada di setiap musim kehidupan, termasuk dalam Fase Depresi. Apa saja pelajaran berharga yang bisa kita ambil?

1. Belajar Meletakkan Identitas pada Kristus, Bukan pada Pencapaian
Dalam Fase Depresi, seseorang diuji tentang identitas dirinya. Secara umum, terutama bagi laki-laki, identitas sering dikaitkan dengan pencapaian dan keberhasilan. Namun, ini adalah momen penting untuk belajar bahwa nilai diri kita bukanlah dari apa yang kita lakukan, melainkan dari siapa kita di dalam Kristus.

2. Belajar Tidak Memikirkan Pendapat Orang Lain
Fase Depresi sering kali membawa rasa tidak nyaman karena kita merasa tidak produktif. Kita mungkin khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan: “Apakah saya terlihat malas? Tidak konsisten? Tidak berguna?” Inilah saatnya belajar melihat diri kita dari perspektif Allah, bukan dari penilaian manusia.

3. Belajar Memahami Nilai Diri karena Kasih Allah
Iman Kristen mengajarkan konsep anugerah, berbeda dari konsep kinerja atau pahala yang diajarkan banyak agama lainnya. Dalam Fase Depresi, kita diingatkan bahwa kasih Allah tidak bergantung pada kemampuan kita untuk berkarya atau produktif. Allah mengasihi kita sebagaimana adanya, bahkan sebelum kita melakukan apa pun.

4. Belajar Bertekun dan Sabar dalam Penderitaan
Setiap fase akan berlalu, dan menjalani Fase Depresi sering kali tidak menyenangkan. Namun, ini adalah waktu untuk belajar bertekun dan sabar dalam menanggung penderitaan. Kita diajar untuk berdamai dengan situasi, menerima segala sesuatu sebagai bagian dari kedaulatan Allah, dan percaya bahwa tidak ada peristiwa yang sia-sia.

5. Belajar Berharap dan Menantikan Tuhan
Dalam Fase Depresi, kita belajar berharap pada Tuhan. Ketika Tuhan pernah menolong kita di masa lalu, kita percaya bahwa Dia akan menolong kita lagi. Kita menantikan kasih karunia dan kekuatan-Nya untuk membawa kita keluar dari “malam gelap jiwa”. Firman Tuhan berkata:
“Mereka yang menanti-nanti TUHAN akan memperoleh kekuatan baru; mereka akan terbang seperti rajawali, berlari dan tidak menjadi lesu, berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

6. Belajar Bersyukur
Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:18 mengingatkan kita:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Bahkan dalam Fase Depresi yang tampaknya tidak produktif, kita diajar untuk tetap bersyukur. Kita percaya bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan (Roma 8:28).

7. Belajar Kalibrasi Ulang dan Terus Mengkalibrasi Pola Hidup

Sebelumnya, saya sudah menjalani pola hidup sehat, seperti diet dan olahraga. Namun, seiring waktu, ada kalanya saya kehilangan konsistensi. Contohnya, pada akhir Desember, pola makan saya menjadi tidak teratur. Namun, sejak saya kembali ke Tanjung Pinang, saya mulai mengkalibrasi ulang pola makan dengan disiplin. Hasilnya, berat badan saya turun dari tiga digit menjadi dua digit.

Dalam fase depresi ini, saya terus berjuang untuk secara perlahan membangun kembali kebiasaan sehat. Baru-baru ini, saya mulai berenang lagi, dan meskipun baru dua hari, ini adalah langkah maju. Saya belajar bahwa dalam menjalani komitmen terhadap gaya hidup sehat, terkadang kita bisa jatuh dan bangun. Namun, yang terpenting adalah terus melangkah dan memperbarui komitmen.

8. Hikmat yang Didapatkan Selama Fase Depresi

Selain menjalani pengobatan medis, saya menyadari bahwa pola pikir dan gaya hidup saya harus terus diperbarui. Dalam perjalanan ini, saya berkonsultasi dengan seorang konselor kompeten yang memiliki gelar doktor. Beliau menyarankan agar saya mencoba hobi yang berhubungan dengan alam, seperti berkebun atau merawat tanaman.

Hal ini mengingatkan saya pada Saudara Haniel yang sukses dengan hidroponiknya. Saya pun memutuskan untuk mengambil alih tugas menyiram tanaman di rumah dari asisten rumah tangga. Dengan melakukannya sendiri, saya merasa lebih dekat dengan alam dan lebih sering memperhatikan pertumbuhan tanaman. Ini ternyata memberikan dampak positif bagi kesehatan mental saya.

Kemarin pagi, saya diingatkan oleh Firman Tuhan dalam Kejadian 2:15:
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Dalam bahasa asli, “mengusahakan” dan “memelihara” menggunakan kata abad dan shamar, yang memiliki arti sebagai ibadah. Artinya, pekerjaan adalah bentuk ibadah.

Sebagai seseorang yang terbiasa fokus pada hal-hal teknologi tinggi, seperti pemrograman, pengembangan aplikasi, dan web, saya sering mengabaikan hal-hal yang bersifat alamiah, seperti mengurus rumah atau menjaga kebersihan secara mendetail. Hal ini terkadang menimbulkan konflik, terutama dengan pasangan. Namun, saya kini sadar bahwa rumah saya adalah “Taman Eden” saya. Mengusahakan dan memelihara rumah adalah bagian dari pekerjaan sekaligus ibadah.

Terakhir, saya belajar untuk mengambil ritme hidup yang lebih pelan. Gangguan bipolar sering kali membuat hidup saya kurang stabil, tetapi dengan ritme yang lebih perlahan, saya merasa lebih mampu menjaga keseimbangan dan stabilitas.

Soli Deo Gloria
Jeffrey Lim
16 Januari 2025
Ketika dalam pergumulan depresi lagi 😊

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Enter your keyword